Menilik COVID-19 dari Perspektif yang Berbeda

Kalau ada kumpulan kata yang bisa menyatukan umat sedunia, COVID-19 adalah salah satunya. Kenapa? Semua orang, ga peduli usia, ga pandang jabatan, cewek-cowok bodo amat, pasti tahu coronavirus dan penyakit yang dibawanya. Semua orang mungkin tahu, tapi pemahamannya pasti berbeda-beda. Ada yang tahu separah apa akibat terjangkit COVID-19. Ada yang paham cara pencegahan dan penanganannya. Ada juga yang menyamakan coronavirus dengan COVID-19 (coronavirus itu virusnya, penyebab sakitnya; COVID-19 itu penyakit yang disebabkan virusnya.) Variasi pemahaman bisa berbeda tapi cuma satu hal yang sama: Semua tahu, paham, dan setuju bahwa COVID-19 itu berbahaya. Makanya di awal dikatakan COVID-19 itu salah satu pemersatu bangsa-bangsa. Semua memiliki musuh yang sama.

Pandemi dan Respons Kita

Bayangkan, satu makhluk kecil mungil tak kasat mata mampu men-shut down­ dunia. Pariwisata mati suri, tau deh kapan bangunnya. Perdangangan hampir pingsan. Ekonomi global praktis koma. PHK di mana-mana. Cuti tak berbayar jadi satu hal yang ditunggu dengan tidak antusias. Alkohol, masker wajah, sarung tangan, hand sanitizer, bahkan hidrogen peroksida menipis stoknya. Se-desperate itu. Sepanik itu. Cuma gara-gara virus yang menyebar ke mana-mana. COVID-19 berubah dari istilah menjadi teror yang bikin kita ngeri-ngeri horor. Hal-hal pertama yang nyangkut di kepala ketika mendengar COVID-19 adalah: wabah, infeksi, pandemi, virus, demam, dan segudang kata lain yang, oh tuhanku, bikin pingin di rumah aja sampe kelar.

Batuk kering adalah salah satu gejala umum

Belum lagi kalo kita ngomongin fakta bahwa COVID-19 belum ada obatnya, vaksinnya. Wah, kepala bakal tambah butek. Pikiran resah. Tidur ga nyenyak. Makan ga enak. Hari-hari diisi khawatir berkepanjangan. Setiap jam diisi pertanyaan “Apa lagi, nih, yang kudu gue lakuin biar lebih higienis, sehat, bebas kuman?” Trus, ngelakuin hal-hal yang niatnya supaya waspada tapi kenanya malah ga masuk akal. WFH niatnya baik tapi gara-gara kelamaan di rumah malah berubah jadi kaya hukuman. Mau keluar, takut. Tetap di rumah, bosan. Kita semua bimbang mau mengorbankan kebiasaan demi keamanan atau bersikap ga mau tau, berharap dan berdoa semua baik-baik aja.

Tapi masa sih, cuma hal buruk yang ada untuk diantisipasi dari keadaan saat ini? Masa sih, kita kudu memaksa diri beradaptasi dengan cara bersiap untuk hal-hal paling buruk aja? Masa sih, mulai sekarang kita kudu hidup dengan penuh curiga sama orang lain? Sulit, memang, membayangkan ada hal baik yang bisa dilihat dari situasi seburuk sekarang ini. Kita cenderung terenyuh waktu dihadapkan dengan keadaan yang serba buruk—dan itu, BTW, manusiawi. Siapa sih, yang benar-benar siap menerima kenyataan pahit? Kita bisa selalu siap siaga, selalu waspada dan berpikir tidak ada yang terlalu berat untuk dihadapi. Tapi bencana—apapun bentuknya—itu kaya banjir bandang. Selalu datang tiba-tiba di saat yang paling tidak kita kira. Dan kalo udah dateng, udah deh, cuma bisa ngelakuin tindakan-tindakan kuratif meskipun tindakan preventifnya udah seabreg-abreg.

Sisi Lain dari COVID-19

Nah, udah deh ya, kita ga usah bahas yang serem-serem. Ada banyak sumber di luar sana buat dibaca kalo soal dampak buruk lah, simtom lah, pengobatan lah. Ga usah juga bahas apa itu coronavirus, tinggal buka Wikipedia buat ringkasnya, mah. Coba tutup mata pelan-pelan dan tarik napas dalam-dalam. Habis itu, yuk kita ngobrolin yang baik-baik aja sekarang, saat ini, sebentar saja.

  1. Kita jadi lebih sering cuci tangan

Coba, dulu sebelum COVID-19 trending, berapa kali kita cuci tangan dalam sehari? Cuci tangan sekali sehari juga udah bagus, kan? Itu pun sekadar basah. Sekarang, cuci tangan kudu pake sabun, kalo ga, ga mantep. Frekuensinya juga naik. Setiap dari luar, habis pegang sesuatu, atau ngapain pasti cuci tangan minimal 20 detik. Katanya ada juga yang cuci tangan sambil digosok kuat-kuat sampe lecet. Lebay sih, emang. Tapi mencuci tangan tiba-tiba jadi budaya harian yang lumrah dilakukan. Toko-toko, mall-mall, warung-warung makan, semua sedia fasilitas cuci tangan. Repot? Pastinya; apa lagi kalau kita ingat jaman dulu sebelum wabah, masuk mall main masuk aja. Sekarang? Jangan coba-coba kalo ga mau diusir pak satpam. Jadi ingat juga dulu pas kuliah ada temen yang males banget cuci tangan karena pemikirannya gini: ngapain cuci tangan toh ada asam lambung yang bakal bunuh bakteri dan virus yang nempel di makanan.

Wabah COVID-19 membawa kesadaran untuk kita supaya kita sadar, hei, selama ini kita tuh teledor sekali soal kebersihan dan sering menyepelekan hal sekecil virus. Ingat ya, hal besar selalu berakar dari hal kecil.

  1. Lebih teliti soal kehigienisan hal di sekitar

Sekali kita sadar tentang menghargai kebersihan, kita pun akan menjadi lebih pemilih perkara kebersihan. Ada semacam kesadaran di diri kita untuk menghindari makanan yang tidak dimasak atau dimasak tidak sempurna. Bahkan ketika memilih makanan segar (sayuran mentah, misalnya) kita akan tergerak untuk benar-benar membersihkan si bahan makanan. Mungkin akan ada pikiran, ah, virus ga mungkin nempel di sayur segitu lamanya. Tapi, apakah kita sebegitu kepingin makan sayuran mentah sampai rela mengonsumsi sesuatu yang tidak dicuci dengan menyeluruh dan tuntas?

Fun tip: Pilah-pilah daun sayuran, buang yang layu (atau sisihkan untuk dimasak, jika bisa). Lepaskan dari bonggolnya lalu cuci di bawah air mengalir. Kemudian, rendam sayuran tersebut dalam baskom berisi air garam dan biarkan selama setidaknya 10 menit. Ini juga bisa dilakukan sebagai tindakan disinfeksi alamiah untuk sayuran yang akan dimasak tapi tidak dalam waktu lama.

Lingkungan tempat tinggal pun menjadi objek yang tidak bisa kita abaikan. Kita jadi lebih sering mengepel lantai. Semprotan disinfektan (baik yang tanpa aroma maupun yang wanginya semerbak semesta raya sampai kecium ke jalan) secara reguler. Semua supaya kita yakin tidak ada potensi infeksi di sekitar tempat kita menghabiskan waktu sehari-hari.

  1. Pola makan lebih teratur dan terjaga

Dulu, sebelum COVID-19, berapa kali kita makan junkfood? Berapa kali kita makan daging tanpa diimbangi unsur gizi lain? Sekarang saatnya kita-kita yang menghindari sayuran dan buah untuk mempertimbangkan ulang pola dan pilihan hidup yang kita ambil. Iya, sayur memang rasanya tidak seenak daging. Oke, dari kecil ga terbiasa makan buah karena repot ngupas dan motong. Tapi ini saatnya kita belajar membiasakan diri. Buah dan sayuran tinggi nilai gizi dan antioksidan alami. Vitamin? Jangan tanya. Mineral? Sayuran dan buah gudangnya. Makan buah dan sayuran akan memberi kita manfaat yang berlipat-lipat; vitamin, mineral, dan antioksidan didapatkan, serat alami juga masuk. Badan sehat karena imun kuat, pencernaan lancar jaya bebas tanpa hambatan.

  1. Tidur lebih baik

Berkat pandemi, kantor-kantor ditutup dan karyawannya disuruh kerja dari rumah. Ini bisa dijadikan momen tepat untuk mendetoks diri dari lingkungan kantor yang selama ini bikin kita jengah dan muak. Memang, untuk bisa nyaman bekerja dari rumah setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas berangkat ke dan pulang dari kantor butuh waktu. Anggap saja ini adalah paksaan untuk kita menekan tombol reset. Karena bekerja dari rumah, keharusan untuk lembur tidak ada. Bangun pagi jauh lebih santai tanpa bayangan ketakutan terjebak macet dan konsekuensi terlambat. Kita pun bisa beristirahat lebih maksimal. Tidur jauh lebih cukup ketimbang pas masih ngantor. Tapi ingat ya, WFH atau tidak, kewajiban tetap kewajiban loh.

  1. Lebih banyak waktu untuk keluarga

Konsekuensi wabah COVID-19 ada bermacam-macam dari sisi profesi. Di-PHK dan pemberian status cuti tanpa bayaran sudah bukan hal mengejutkan lagi sekarang ini. Respons psikis kita pun berbeda-beda terhadap konsekuensi ini. Tapi kalau kita bisa melihat dari sisi lain dan mampu melewati periode “berduka” itu dengan sehat, ada kok hikmahnya. Kita bisa kembali mendekatkan diri dengan keluarga setelah selama ini waktu yang kita punya hanya terfokus pada pekerjaan dan main dengan teman di luaran sana. Kita bisa ikut melihat tumbuh-kembang anak, lebih terlibat dalam mendidik mereka dan memantau apa-apa di sekitar mereka. Dengan pasangan juga bisa lebih mesra dan lebih dekat lagi.

Gimana kalo yang masih lajang? Sama juga. Kita bisa lebih sadar dengan hal-hal yang terjadi di rumah, misalnya. Kita pun bisa menjadi tempat curhat bagi orang tua atau saudara. Pokoknya, ini benar-benar menjadi kesempatan untuk kita bisa kembali “melihat ke dalam”.

  1. Jadi lebih paham teknologi

Kewajiban untuk bekerja dan sekolah dari rumah menuntut kita untuk melek teknologi. Dulu mungkin kita ga tau apa sih, Zoom itu? Fungsinya apa, dan makenya gimana? Sekarang semuanya diselenggarakan via internet. Mau ga mau kita kudu upgrade skill kita dalam menggunakan teknologi komunikasi digital. Para orang tua juga dituntut paham teknologi dalam membantu anak-anak mereka menyelenggarakan sekolah via internet. Pastinya ada kesulitan tersendiri terkait hal ini. Tapi karena terpaksa, ya…lagi-lagi, mau ga mau kan?

  1. Kreativitas meningkat

COVID-19 datang dengan konsekuensi ekonomi yang bertaraf global. Saat PHK karena corona dan cuti massal diberlakukan, kita pun dituntut untuk lebih kreatif dalam mencari penghasilan. Jika sebelumnya polanya adalah lebih cenderung pasif (kerja dan terima upah) sekarang kita harus memutar otak mencari apa yang bisa dijadikan uang di masa sulit seperti ini. Jualan daring jadi lazim. Metode reseller jadi alternatif yang cukup menggiurkan.

  1. Lebih rajin olahraga

Apa lagi coba, yang lebih efektif dalam meningkatkan stamina selain menggerakkan tubuh? Dulu ada berbagai macam alasan yang kita pakai untuk menunda olahraga: “Ah, fitnesan kejauhan…”, “Ah, membership-nya kemahalan…”, “Ah, males”, “Ah, cape”, “Ah, ga ada waktu”, dan sebaris ah-ah lain mulai dari yang masuk akal sampe yang malah kedengeran dibuat-buat. Sekarang, dengan segalanya tentang WFH saat ini, udah ga ada alasan buat ga olahraga.

Menyikapi New Normal

Belakangan marak istilah New Normal. Ketika sebuah wabah belum bisa diatasi dengan menyeluruh dan obat yang bisa membabat habis penyebab sakit belum ditemukan, maka aturan stay at home menjadi satu-satunya alat untuk menekan penyebaran virus. Makanya kemarin-kemarin banyak banget iklan dan kampanye buat kasi pengertian ke masyarakat biar tetap di rumah aja, ga usah ke mana-mana. COVID-19 itu tingkat penularannya terbilang tinggi; jadi kalau mobilitas penduduk tidak sedikit dikekang, jadinya ya, bisa-bisa penyebarannya bisa merata ke seluruh pelosok negara.

Anjuran buat stay at home memang ga membawa dampak bagi mereka-mereka yang pekerjaannya bisa dijalankan dari rumah. Trus, gimana dong, sama yang pekerjaannya mengharuskan mereka untuk ada di luar rumah? Gimana dengan yang menggantungkan hidup justru dari pola mobilitas tinggi? Naaah, makanya awalnya diberlakukan PSBB; boleh keluar, asal untuk alasan urgent dan pekerjaan; yang kelayapan cuma buat cari tempat hangout, disuruh balik ke rumah masing-masing. Keluar dari rumah pun masih disertai persyaratan: kudu pake masker, kudu pake sarung tangan karet, kudu cuci tangan setiap sehabis megang sesuatu. Hand sanitizer dan sebotol disinfektan jadi perkakas wajib buat dimasukin ke tas. Kudu jaga jarak dari orang lain.

Still, itu pun masih ga cukup. Pemerintah mikirnya, mau sampe kapan bisnis-bisnis dikekang? Mau sampe kapan pemukiman penduduk diportal? Mau sampe kapan provinsi-provinsi di-lock down? Perekonomian terancam, nih. Ga mungkin juga ngutang ke negara lain, kan? Negara lain juga sama terpuruk, loh. Naaah, muncul deh, New Normal, sebuah tatanan berkehidupan yang baru sebagai respons direct terhadap kemungkinan bahwa COVID-19 masih belum sepenuhnya berada di bawah kendali. Kita semua dituntut beradaptasi dengan keadaan yang ada. Semuanya berangkat dari satu pemikiran sederhana: Life must go on, wabah atau tidak.

Sekarang, toko-toko, kafe-kafe, pusat-pusat perbelanjaan, hotel-hotel udah mulau dibolehin beroperasi. Tapi kita juga digiring untuk tahu diri biar ga kebablasan. Jangan mentang-mentang udah pada buka, lepas semuanya. Masker ga dipake. Cuci tangan malas. Mulai kacau-balau pola makan-tidur-olahraganya. Ga boleh gitu, ya. Inget ya, vaksinnya belum ada nih, ini penyakit. Kudu siap juga dengan COVID-19 gelombang kedua nanti. Ya, sukur-sukur sih, ga pake gelombang-gelombangan.

Berharap, Berdoa, dan Beradaptasi

Kata orang, habis gelap, terbitlah terang. Kata orang yang lain, selalu ada matahari sehabis badai. Orang yang lain lagi, ada hikmah di setiap kesulitan. Gimana kalo kita coba putar cara kita berpikir jadi gitu? Apa lagi sih, yang kita bisa lakukan, kan? Tentu segala pencegahan harus dijalankan, pastinya. Tapi kalau kita terus-terusan fokus ke hal buruk doang, apa ga bikin depresi ujung-ujungnya? COVID-19 memang bencana; cuma si pongah, si angkuh, dan si pengidap keterbatasan informasi yang mungkin mengklaim sebaliknya. Tapi percaya deh, this, too, shall pass. Ini juga bakal ada ujungnya. Semua bakal indah pada waktunya.

1 thought on “Menilik COVID-19 dari Perspektif yang Berbeda

  1. Pingback: Social Distancing vs. Social Disconnecting: Beda dan Bahaya | Yusri Dinuth

Leave a comment