Punya Anak Lebih Dari Satu Itu Berisiko? Yuk, Kita Bahas

Keluarga yang harmonis

Haaalo Teman DRYD!

Ketemu lagi kita di kategori khusus membahas seputar dunia parenting. Teman semua pasti dong tahu tentang yang dimaksud parenting. Paling ga, pasti ada pemahaman mendasar tentang topik ini. Parenting bisa disederhanakan sebagai pola asuh orang tua terhadap anak, bagaimana orang tua mendidik anaknya. Tapi, pendidikan yang gimana dulu nih?

American Psychological Association (APA) mengerucutkan parenting dengan definisi berupa pola asuh anak yang dilakukan oleh orang dewasa (tidak mesti berhubungan secara biologis loh, ya) dengan tujuan utama meliputi: memastikan kesehatan dan keamanan bagi anak, memastikan si anak menjadi pribadi yang produktif di masa depan, dan memastikan nilai-nilai budaya turun pada anak dan terinternalisasi dengan baik.

Definisi mendasar parenting ini bisa kita gunakan untuk menilik fenomena unik yang kayanya makin marak belakangan ini: Bahwa semakin banyak orang tua yang kepingin menambah anak tanpa memperhitungkan jarak anak pertama dan kedua. Hasrat menambah anak adalah hal lazim di setiap rumah tangga dan itu dapat dimaklumi. Kenapa mau tambah anak? Wah, ada banyak alasan untuk dijadikan jawaban bagi pertanyaan sesederhana itu. Ada yang berpikir dengan menambah anak maka rumah akan menjadi lebih ramai, ga sunyi kayak lapangan kosong. Ada yang mikir, wah si kakak butuh adek nih, biar ga sibuk sendiri. Ada lagi yang mikir, nambah anak dengan rentang usia berdekatan berarti nanti gede-nya bisa barengan; ga yang satu udah dewasa, yang satu masih muda belia. Ide bahwa membesarkan anak secara bersamaan berarti nanti rasa lelahnya pun usai bersamaan pun juga jadi alasan logis. Trus, ada lagi yang mikir-nya rada-rada konvensional; banyak anak, banyak rejeki, jadi selagi masih bisa, yok di-gas. Semua alasan ini valid; kita ga lagi ngomongin mana yang masuk akal, mana yang bikin mulut menganga. Kecuali alasannya mau bikin kesebelasan, baru deh, mengernyitkan dahi. Tapi yang jadi pokok permasalahannya di sini adalah apakah sebuah langkah yang smart menambah anak sementara anak pertama masih perlu dipantau perkembangannya?

Ga ada kok, yang menyalahkan keinginan punya anak. Tapi coba deh, dipikir-pikir lagi, apa si anak pertama sudah cukup menerima pola asuh dari kita sebagai orang tua? Ada tahapan perkembangan anak menurut umur yang harus selalu diikuti dengan baik agar si anak sempurna pertumbuhannya, baik fisik maupun mental. Kalau anak pertama bicara saja masih belum beres, terus udah hamil lagi, ibu akan sangat keteteran dalam meng-cover semuanya: Memastikan anak pertama baik-baik saja itu sudah menyedot pikiran loh, apalagi kalau ditambah harus memantau anak dalam kandungan sehat selalu di saat yang sama.

Apa Buruknya?

Setuju ga, kalau dibilang mengurus satu anak itu ga gampang? Iya kan? Iya, dia lahir dari kita. Iya, dia kita yang urus. Tapi seorang anak tetaplah individu yang berdiri sendiri; kepalanya aja udah beda, apalagi isinya, apalagi karakter dan kepribadiannya. Jujur deh, kalau punya anak kedua (atau ketiga, keempat) pasti anak yang sudah lebih dulu tua disuruh ikut membantu merawat adiknya. Kenapa? Ini biasanya terjadi ketika si ibu merasa segalanya sudah out of hand, dia sudah merasa bahwa kondisi rumah tangga sudah tidak bisa lagi dia kontrol sendirian. Mending kalo si bapak melek situasi, kan? Coba kalo suami tipe yang keburu tersedot perhatian dan tenaganya oleh pekerjaan. Ujung-ujungnya, anak yang gede yang disuruh-suruh.

“Kan tujuannya juga buat ngelatih dia, Dok, biar mandiri, sigap, patuh.”

Iyaaa, paham. Melibatkan anak dalam urusan rumah tangga itu ga salah. Malah banyak sisi positifnya. Tapi masa iya, dia mau disuruh ngawasin adek-nya juga? Orang dia juga masih perlu diawasi, kok. Gini loh, bundaaa, kalau si anak diberi tanggung jawab se-gede itu, dia ditempatkan dalam posisi yang mungkin hampir sama dengan orang tuanya, nanti dia dewasa terlalu cepat loh. Beban psikis yang diterima belum sepadan dengan tahapan tumbuh-kembangnya dan akhirnya dipaksa men-skip apa yang seharusnya dia lewati dengan sehat. Nih, ke-skip satu aja fase perkembangan di usia dini bisa fatal akibatnya. Efeknya mungkin ga langsung bisa diobservasi. Tapi nanti suatu saat nanti ketika dia besar secara umur, baru deh bermanifestasi. Susah? Complicated? Siapa bilang punya anak itu gampang?

Mari Membahas Risiko dan Efek

Waspada terhadap potensi tantrum pada anak

Jadi, apa sih, Dok, efek nyata dari punya anak dengan rentang umur terlalu dekat?

Pertama, potensi tantrum menanjak. Si anak pertama masih butuh kasih-sayang dan perhatian khusus, sudah ditinggal mengurus anak kedua—yang juga butuh extra care. Dari sisi orang tua saja jelas ini merupakan kerugian besar. Cape loh, kondisi kayak gini. Anak yang masih bayi nangis minta makan. Anak pertama nangis ngajak main. Si anak pertama belum paham apa-apa, tau-nya cuma teriak-teriak minta ini-itu. Kalo ga dikabulkan, marah sejadi-jadinya. Kenapa? Karena cara komunikasinya baru sampai sana. Pahamnya baru tentang jerit-menjerit. Dia belum sempat belajar menyampaikan kemauan dengan lebih smooth. Nah, tantrum-nya keluar, orang tuanya kecapean, meledak ga tuh seisi rumah?

Kedua, bonding menjadi kurang, baik antara anak pertama dan orang tua dan juga antara anak pertama dengan yang kedua. Kenapa bisa begitu? Usia-usia dini, sekitar 1 hingga 3 tahun, adalah periode kritis dalam proses identifikasi anak terhadap lingkungannya, termasuk unsur-unsur di dalam ruang lingkup dekat. Orang tua termasuk memegang peran vital dalam memastikan keutuhan ikatan batin antara mereka dan si anak. Gimana sih, proses bonding ini? Apa sih, yang bikin ikatan batin jadi kuat? Banyak faktor dan aspeknya. Yang paling sederhana ya, menghabiskan waktu dengan si anak. Main dengan mereka. Makan dengan mereka. Penuhi semua kebutuhan dasarnya. Ajak dia berbincang. Caranya bisa macemmacem; tapi dengan keberadaan anak yang baru lahir, apa mungkin Teman DRYD sanggup membagi perhatian, waktu, dan energi dengan adil dan merata? Dengan adiknya sendiri juga akan sulit terbentuk ikatan yang kuat. Sejak kecil si kakak akan menilai bahwa si adik adalah sebuah tanggung jawab. Perlakuannya akan beda sebab si kakak ujung-ujungnya bakal menganggap adiknya ini sebuah… apa ya… beban, mungkin?

Ketiga, rasa percaya diri si kakak bisa berada dalam bahaya. Inget kan, tadi dikatakan usia dini itu periode kritis? Ini juga berlaku untuk pematangan cara si kakak memandang dirinya sendiri, caranya memberi value pada dirinya sendiri. Di dalam usia yang semestinya masih menerima perhatian utuh dan terfokus, si kakak harus mencerna kenyataan bahwa dirinya ga terlalu spesial untuk dirawat. Selalu adik yang nomor satu. “Tapi anak bayi namanya, Dok. Pasti dong dirawat ekstra….” Ya makanya itu; suka ga suka, bayi itu sangat demanding. Dengan keberadaan si kakak, akan sangat sulit membagi fokus dan meratakan perhatian dengan serata-ratanya. Kondisi ini bisa diperburuk lagi kalau si kakak juga dituntut untuk berpartisipasi dalam membesarkan si adik. Itu bukan kewajibannya loh. Akhirnya gimana kalau ada tanggung jawab itu juga yang harus si kakak pikul? Yaaa, mungkin nanti dia bakal mikir, “Ah, saya cuma orang yang ikut membesarkan adik….” Gawat kan, kalo sampe sana dia berpikir.

Keempat, timbul rasa iri dan sifat kompetitif yang berlebihan dan tidak sehat. Naaah, ini nih, yang paling gampang dideteksi. Siapa sih, yang suka dengan sikap pilih kasih? Si kakak bisa berpikir si adik menerima curahan kasih sayang dan perhatian seratus persen dari ibu-bapaknya sementara dia cuma di-acknowledge kapan perlu. Ga perlu anak-anak deh, orang dewasa juga sebel dibegituin, kan? Orang tua bisa berdalih, “Engga kok, saya ga pilih kasih. Kan sesuai porsinya, kakak udah gede, udah bisa mandi, makan sendiri. Adek kan belum bisa ngapa-ngapain.” Itu menurut kita; dari perspektif si kakak bisa beda total. Dari rasa iri, muncul kompetisi. Dan kalo udah ada kompetisi, dijamin deh, rumah bakal panas rasanya. Persaingan antarsaudara itu lumrah. Malah mungkin sehat kalau intensitasnya normal. Tapi kalau sudah jadi kompetisi, itu yang berbahaya. Si kakak mikir gimana caranya supaya jadi yang the best di segala lini. Apa-apa kudu sempurna, lebih dari adiknya. Si adek, di lain pihak, kan ga ngerti nih, ini kakak kenaaapa, ya? Trus ga suka sama kelakuan kakaknya yang ga mau kalah. Ga nutup kemungkinan di kemudian hari nanti apa yang bermula sebagai persaingan sederhana berujung benci dan dendam, itu yang kita harusnya hindari.

Ada Ga Sih, Jarak Usia Anak-anak yang Ideal?

“Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat?”

Ajak si kakak berkomunikasi

Ada baiknya memikirkan selisih umur anak yang ideal sebelum memutuskan untuk punya anak lagi. Warren Cann, psikolog dari Parenting Research Centre di Australia, berpendapat bahwa rentang usia antara 2 anak yang terlalu dekat dan terlalu jauh sama-sama memiliki risiko kesehatan. Jadi diperlukan semacam garis tengah yang aman dalam hal ini. Jika bicara tentang jarak umur anak yang ideal dalam kaitannya dengan keinginan untuk punya 2 anak berjarak dekat usianya, sebaiknya kehamilan berikutnya direncanakan setidaknya 18 hingga 23 bulan semenjak kelahiran anak sebelumnya. Itu setidaknya loh, ya. Periode ini dirasa cukup untuk memberikan kesempatan pada anak pertama untuk bertumbuh dan berkembang dengan wajar sehingga kehadiran anak berikutnya tidak akan memberi jeda pada tahap-tahap yang semestinya.

Dua masa kehamilan yang berjarak kurang dari 18 bulan akan membuat Teman DRYD kehilangan me-time. Bukan, ini bukan berarti Teman semua harus egoistis—menjadi orang tua adalah pekerjaan seumur hidup yang otomatis meniadakan waktu berkualitas untuk diri sendiri. Tapi bagaimanapun juga kita semua adalah manusia yang kadang jenuh dengan rutinitas sehingga butuh menekan tombol pause sejenak untuk menarik napas. Dua anak yang umurnya terlalu dekat akan sangat melelahkan. Memang nantinya akan lebih mudah karena mereka pun membesar hampir bersamaan. Tapi, yang jadi pertanyaan adalah, apakah sanggup membagi rata perhatian dan memastikan pola asuh yang diberikan sudah tepat? Ingat ya, pola pengasuhan harus membuat anak-anak merasa aman, sehat, produktif, dan mampu memahami nilai dan tatanan yang diturunkan. Sebaliknya, 2 anak dengan rentang usia yang terlalu jauh memiliki potensi beban psikologis yang besar. Setelah 5 tahun merawat satu anak, kembali mengasuh bayi dari nol akan memaksa diri untuk lagi dan lagi melewati fase yang sama.

Langkah-langkah Preventif

Sebenarnya, tidak ada solusi pasti untuk fenomena ini karena memang ini bukan masalah melainkan lebih kepada berkenaan hal-hal abstrak yang bersifat management. Tapi tetap ada cara-cara yang bisa bunda semua lakukan untuk menekan potensi efek negatif.

Kita sebagai orang tua sebaiknya aware perkara keharusan untuk sharing dengan anak pertama, terutama tentang hal-hal yang bikin hepi. Jika memang Teman memutuskan untuk punya anak dengan jarak usia berdekatan, selama masa kehamilan kedua, cobalah berbagi dengan si kakak mengenai yang positif-positif saja. Pas lagi berduaan, ajak ngobrol deh, coba tanya “Kakak bentar lagi punya temen loh; mau diajak ngapain aja nanti?” Atau “Nanti dede-nya disayang ya, Kakak. Dikasi kue ya, sama dipinjemin mainan, ya.” Kecil kemungkinan anak umur 1 atau 2 tahun bisa paham apa yang bunda katakan. Tapi paling tidak si kakak bisa meraba mimik muka bunda dan merespon nada bicara bunda yang positif dan membuatnya bahagia. Nantinya, si kakak akan mengasosiasikan si adik dengan hal-hal baik yang membuat rasa excitement-nya meningkat. Jadi jangan sedikit-sedikit si kakak di-ingetin tentang kewajiban harus menjaga adik, harus merawat adik, harus nyuapin adik, apalagi harus menyekolahkan adik, berabe buk-ibuuuuk.

Terus, hal basic nih. Perkirakan kesiapan Teman DRYD untuk kembali menimang anak. Punya anak-anak deketan usianya emang ide yang menawan karena prospek lepas dari rasa lelah mengasuh anak yang lebih serentak di masa depan. Tapi siap ga secara mental, fisik, dan, terutama, finansial? Emang sih, karena jarak yang ga terlalu jauh, peralatan bayi si kakak bisa dipakai lagi untuk si adik—dot atau stroller misalnya. Tapi ada hal lain loh, yang ga mungkin disamakan. Asupan gizi anak umur 2 tahun pasti beda dengan anak umur sebulan setengah, misalnya. Belum nanti kalo mereka udah gedean, udah bisa mikir lebih kompleks dan punya selera sendiri. Mana mau si adek make baju bekas kakaknya.

Persiapan Sebelum Kembali Memiliki Momongan

“Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.”

Jadi? Udah mantep mau punya anak lagi? Gini nih, garis besar persiapannya.

  1. Lihat usia si ibu

Perempuan di bawah 30 tahun yang sehat berpotensi lebih besar ketimbang yang berusia di atas 35 tahun. Bukaaan, bukan dilarang hamil umur segitu. Tapi kehamilan pada saat usia ibu di atas 35 tahun lebih rentan risiko terutama risiko kelainan kongenital. Selama kehamilan pun si ibu nanti akan lebih berpotensi kesulitan seperti diabetes gestasional maupun keguguran.

  1. Jarak kehamilan sebaiknya ideal

Tadi udah disinggung tentang periode ideal antara 2 kehamilan jika yang diinginkan adalah anak-anak yang usianya berdekatan. Nah, sekarang bahas jarak kehamilan yang ideal secara normal, yang pasnya, gitu. Sebaiknya, rencanakan kehamilan berikutnya antara 2 hingga 4 tahun sejak kelahiran yang pertama. Ini bukan cuma perkara kematangan si anak yang sebelumnya tetapi juga kondisi fisik si ibu. Kondisi tubuh perempuan memerlukan waktu untuk kembali siap mengandung lagi. Jika kehamilan terjadi terlalu dekat, dikhawatirkan akan terjadi kelainan plasenta—risiko ini akan berlipat apabila persalinan sebelumnya terjadi secara sesar.

  1. Timbang-timbang kemampuan finansial

Ini sih, seharusnya sudah tidak dibahas ya. Jumlah anggota keluarga bertambah, artinya biaya yang dibutuhkan pun meningkat. Tapi ya mau ga mau harus diikutsertakan sebagai salah satu faktor yang patut ditelaah sebelum memutuskan untuk memiliki momongan lagi. Banyak loh, yang harus dipersiapkan: biaya selama kehamilan, biaya persalinan, asupan gizi seperti susu, perlengkapan dan peralatan bayi, imunisasi, sampai masalah biaya pendidikan jika sudah menginjak usia sekolah.

  1. Cari tahu masalah kesiapan pasangan

Punya anak itu andil berdua, ya. Jika satu saja dari sepasang orang tua berpikir bahwa ia belum siap memiliki momongan lagi, maka sebaiknya diurungkan saja.

  1. Tanya si kakak, siapkah dia menyandang status baru?

Dengan asumsi si kakak sudah dapat berkomunikasi lebih baik dan pola logikanya sudah mulai terbentuk, ajukan pertanyaan-pertanyaan yang bunda bisa jadikan sebagai tolok ukur kesiapan mentalnya dalam menerima kehadiran bayi baru di tengah keluarga. Pastikan ikatan antara bunda dan si kakak tetap terjaga sekalipun di tengah masa kehamilan yang baru.

Final Words

Siap punya anak lagi?

Pembahasan kali ini bukan dimaksudkan sebagai judgment atau upaya menentukan nilai baik-buruk, benar-salah. Semua berhak dan bisa punya anak, kapanpun mereka siap dan berapapun mereka mau. Tapi ini lebih kepada usaha pemberian pemahaman kepada Teman semua mengenai risiko, konsekuensi, dan tanggung jawab kita sebagai orang tua dalam memastikan pola asuh yang tepat.

Punya anak lebih dari satu itu memang menyenangkan. Rumah terasa lebih hangat dan Teman DRYD pun tidak akan kesepian. Tetapi kalau Teman memilih untuk punya anak lebih dari satu dengan jarak usia yang sangat mepet dan akhirnya kewalahan, apakah tidak lebih baik dari awal menunda kehamilan berikutnya? Something to think about.

Leave a comment