
Kulit kencang dan lekuk tubuh menjadi incaran banyak orang
Semua orang kepingin terlihat sempurna. Badan maunya in shape. Stamina stabil, jarang nge-drop. Kulit mulus berkilau, kenyal dan kencang. Semua orang mau terlihat awet muda, 10 tahun lebih muda daripada usia yang sebenarnya. Banyak yang cari tahu tentang cara menurunkan berat badan. Dan semua orang berpikir bahwa lemaklah yang berdiri di tengah jalan, menghalangi mereka dari meraih apa yang mereka idamkan. Lemak yang menumpuk di titik-titik tertentu di badan memang mengurangi nilai estetis; tapi, apakah bijak kalau fokus kita cuma dipersembahkan untuk memotong besaran berat badan yang terlihat di timbangan?
“Banyak faktor menjadi penyebab penumpukan lemak yang berujung peningkatan angka timbangan.”
Kalau kita bicara perkara ketidakindahan fisik, memang lemak yang sering jadi kambing hitam. Badan terlihat mengembang kaya adonan roti yang membesar sempurna. Baju-baju, gaun-gaun tidak ada yang muat. Jangankan bergerak untuk pindah dari sofa ke kamar mandi, misalnya, bernapas aja bikin deg-degan. Mudah buat kita menyalahkan lemak sebagai satu-satunya penyebab berat badan naik—dan itu ga salah. Tapi juga ga sepenuhnya benar. Banyak faktor menjadi penyebab penumpukan lemak yang berujung peningkatan angka timbangan. Dan mayoritas dari faktor-faktor tersebut bermula dari, as you can probably guess, kelalaian kita sendiri. Tapi ini kita bahas nanti ya. Sekarang kita obrolin deh kecenderungan apa yang ada dalam menghadapi berat badan berlebih.
Weight Loss: Konsep dan Challenge
Kebanyakan dari kita biasanya langsung kesel liat angka timbangan naik, bahkan ketika angkanya cuma nambah 0.5kg. Abis itu, udah, langsung nyalahin lemak, lemak, dan lemak. Langsung down. Langsung depresi berkepanjangan. Ujung-ujungnya, langsung mutusin buat diet ketat tanpa mikir aturan dan anjuran. Pokoknya kepala cuma keisi gimana caranya biar lemak cepet ilang aja. Ga ada yang salah dengan diet. Tapi diet yang ga jelas justru malah berbahaya. Dampaknya bisa sistemik dan sekalipun mungkin ga instan, dampak itu tetap bakal membuat kesehatan kita berada dalam risiko. Kita mikir jangka panjang, nih. Gitu juga dengan nge-gym. Kita bakal terpicu buat ke fitnesan, olahraga mati-matian sampe tu fitensan banjir keringat kita doang. “Tapi, Dok, kan bagus kalo olahraga, berkeringat. Bakar lemak, badan sehat.” Iya, emang. Tapi yang juga harus diingat nih, apa kamu udah olahraga dengan benar? Durasinya udah tepat, belum? Jenis gerakan, tipe beban, teknik pernapasan udah efektif, belum? Inget ya, jumlah keringat yang diproduksi badan tidak berbanding lurus dengan jumlah kalori yang digunakan ketika beraktivitas fisik. Keringat cuma indikasi bahwa ada kenaikan suhu badan dan suhu badan yang naik tidak otomatis berarti jumlah kalori yang digunakan badan bertambah. Makanya, durasi olahraga yang tepat haruslah menjadi indikator utama, begitu juga dengan jenis gerakannya. Jangan baru 5 menit olahraga, udah banjir keringat, abis itu mikir, “Wah, gue udah bakar lemak banyak banget ini.” Belum tentuuu…
“Lihat dan pertimbangkan, apa sih, yang menjadi pendorong utama kita mau mengurangi lemak badan?”

Olahraga menjadi salah satu preferensi dalam menghilangkan lemak
Weight loss itu memang bagus. Terutama ketika kita punya masalah medis seperti mengidap sakit-sakit kardiovaskular, diabetes, dan lain-lain. Kalo kamu punya masalah kaya gitu, nah, harus deh, menjalani program weight loss. Tapi, kalau tujuannya cuma karena ga nyaman dengan bentuk badan yang gede, weight loss malah bisa jadi pisau bermata dua yang justru mungkin lebih banyak efek negatifnya daripada positif. Ini menjadi lebih krusial terutama apabila kamu punya tipe bentuk badan piriformis—seperti buah pir, segitiga, besar di bawah, mengerucut ke atas. Kenapa?
Individu-individu dengan tipe bentuk badan seperti ini jumlah kandungan lemaknya berpusat di bawah seperti di area perut bawah, pinggul, dan paha bagian atas. Ketika jumlah lemak tubuh mereka dipangkas tiba-tiba, akan ada efeknya. Apa efeknya? Kulit di area-area tersebut akan longgar, jatuh terkulai lemas. Akan mustahil mengharapkan efek ini bisa diputar balik secara alami. Akhirnya, yang tadinya berniat untuk mendapatkan tubuh yang estetik dan sedap dipandang, malah berujung badan yang, maaf-maaf omong nih, sama sekali tidak membuat iri mereka yang melihat. Belum lagi kalau kita bicara tentang kesegaran kulit. Nih ya, orang-orang yang ngejalanin diet ketat tiba-tiba tanpa mempertimbangkan prinsip “piring sehat”, orang-orang yang tiba-tiba nge-gym setiba-tiba mereka berhenti, kulitnya pasti kusam. Minimal keliatan ga seger aja. Badan lemes. Output energi minim. Pokoknya ga keliatan ada muda-muda-nya aja, gitu. Asupan gizi yang dibatasi ketat ditambah aktivitas fisik yang meningkat drastis adalah kombinasi buruk yang sama sekali bertolak belakang dari apa yang kita inginkan. Risiko cedera naik. Malnutrisi jadi meningkat potensinya.
Jadi, apa nih, Dok, yang harus dilakukan?
Nah, untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus mulai dari awal. Lihat dan pertimbangkan, apa sih, yang menjadi pendorong utama kita mau mengurangi lemak badan? Peningkatan berat badan memang akan selalu berujung tidak sehat. Tetapi, selama kita belum masuk obesitas, mungkin akan lebih bijaksana apabila kita lebih memilih untuk me-manage semua ketimbang mengambil keputusan ekstrim. Daripada weight loss, lebih baik size loss. “Emang ada bedanya, Dok?”
Berat dan Ukuran Berkaitan
Gini, weight dan size itu kayak sodaraan. Keduanya emang punya ikatan tali silaturahmi yang kuat banget, gitu. Ketika berat bertambah, mudah buat berpikir bahwa ukuran pasti ikut naik. Tapi, sedekat apapun keduanya, ada kok, trik buat misahin mereka. Keduanya sodaraan tapi kayak sepupu aja, gitu. Bisa barengan terus, tapi juga bisa sendiri-sendiri.
Weight loss itu istilah yang merujuk pada pemangkasan berat bada secara umum. Jadi ketika naik ke atas timbangan, kamu bakal liat angka yang signifikan. Makanya ada semacam rasa puas waktu udah menjalani program weight loss dan terus ngeliat angka timbangan yang menurun.
Size loss, di lain pihak, lebih mengacu pada pengurangan jumlah lemak pada area-area tertentu yang dibidik. Karena itu, kalau kamu memilih program size loss, rasa puas yang seperti di atas mungkin tidak ada karena angka yang ditunjukkan timbangan tidak akan terlalu berarti. Atau mungkin malah ga berkurang sama sekali.
“Jadi apa ga lebih baik ambil weight loss aja kalo gitu, Dok?”
Wah, ga mesti.
Balik lagi ke tujuan awal: Kamu obesitas? Kalau iya, weight loss-lah jawabannya. Tapi kalau kenaikan berat badan tidak terlalu ekstrim, saya balik nanya, “Apa ga lebih baik yang ada ini aja yang di-manage?”
Program weight loss ada 2 kategorinya: cara gampang dan cara operasi—kategori kedua akan dibahas lebih lanjut nanti. Weight loss cara gampang tidak segampang kedengerannya. Diet ketat, olahraga dengan frekuensi ekstrim adalah yang paling lazim. Kita bisa beralasan, asal punya niat kuat dan fokus pada tujuan, pasti bisa nurunin berat badan dengan, setidaknya, 2 cara itu tadi. Dan memang ada yang berhasil. Mereka diet mati-matian. Jumlah makanan dibatasi, bahkan di bawah rekomendasi sehat. Jenis makanan disaring ketat, saking ketat mereka cuma bisa ngiler liat iklan makanan doang. Yang lebih ekstrim ada? Adaaa. Bayangkan gimana tersiksanya cuma makan sekali sehari, itupun cuma sebungkus kecil energy bar. Air putih dibatasi karena ada potensi penumpukan air dalam badan dan yang dipikirkan adalah ketika berolahraga, berat air-lah yang lebih dulu dibuang—yang kemudian berarti butuh proses lebih lama untuk bisa membongkar tumpukan lemak. Olahraga pun jadi brutal. Rekomendasi sehat berolahraga itu dilakukan 30-45 menit, setidaknya 2 kali seminggu, maksimal 1 jam deh. Nah, karena kepingin hasil instan, olahraga jadi berjam-jam setiap hari. Ga ada yang larang sih. Untuk beberapa orang bahkan mungkin bisa jadi terapi, terutama mereka yang sehari-hari cuma duduk dan diam—yang juga sama sekali ga sehat. Tapi berolahraga tanpa aturan juga ga efisien. Risiko kelelahan jadi gede banget. Dan kalo udah kecapean, mood rusak. Ujung-ujungnya, males lagi olahraga. Risiko fisik juga sama besar. Pernah denger istilah rhabdomyolysis? Kalo kamu olahraga terlalu keras, otot-otot skeletal (yang nempel di tulang) hancur dan sisanya yang berupa protein mioglobin keluar lewat kencing yang berwarna merah kecoklatan—tapi bukan darah. Kondisi ini berbahaya untuk integritas struktur tulang dan otot tapi ga berenti di situ. Sisa-sisa hancuran muskuloskeletal ini masuk ke ginjal dan mengakibatkan ginjal bekerja lebih keras dalam menyaring darah. Ujung-ujungnya, gagal ginjal. Semua cuma gara-gara kamu ga suka liat ada angka timbangan naik. Ini worst case scenario sih, emang. Tapi masa kudu ngalamin ini dulu baru ngeh?
Cara-cara ini sama sekali tidak bersahabat. Efektif? Iya, mungkin. Sehat? Jelas tidak. Olahraga keras harus disokong asupan kalori dan nutrisi yang cukup. Kalo engga, bunuh diri namanya. Kamu sama aja menyuruh badanmu jadi kanibal. Kurus sih; sehat, ga? Hepi, ga? Dan kita masih belum selesai loh, bahas efek samping.
Mereka-mereka yang memilih weight loss, bahkan jika untuk tujuan medis sekalipun, akan menjalani proses panjang, ga berenti di menghilangkan lemak. Ada perawatan pasca-prosedur untuk me-maintain bentuk—ga jarang melibatkan operasi plastik. Hasilnya instan, memang. Tapi untuk setiap hal instan, ada harga yang harus dibayar, pasti. Size loss juga bisa meliputi beberapa tindakan medis; tapi jauh lebih mudah untuk menjaga ukuran ketimbang memantau perkembangan berat. Orang bisa gampang mikirnya. Ah, suntik kurus, ah. Trus makannya ga dijaga. Olahraga malas. Trus, gemuk lagi, treatment lagi. But your body can only receive so much treatment before it rebels against you. Setelah treatment dan serangkaian prosedur, udah ga ada lagi yang bisa dipangkas.
N.B. Itu semua disertai catatan; semua dengan asumsi operasi dan prosedur yang dimaksud berjalan lancar dan sempurna—which isn’t always the case—dan kemampuan finansial mendukung.
Body Contouring dan Weight Loss Surgery—Pengertian Singkat

Body contouring adalah pilihan yang relatif lebih aman
Dalam dunia kecantikan, ada yang namanya body contouring dan ada yang namanya weight loss surgery. Keduanya sama-sama bertujuan melenyapkan lemak. Tapi operasi weight loss tujuannya lebih mengarah kepada bisa medis, bisa kosmetis. Sementara body contouring itu tujuannya adalah size loss, jadi semata-mata kosmetis. Jadi kalau tujuanmu lebih mengarah ke estetika, semata-mata karena kamu ga nyaman dengan kondisi bentuk tubuhmu, sebaiknya body contouring-lah yang kamu pilih. Kecuali kalau memang ada masalah kesehatan yang menyertai peningkatan berat badanmu. Operasi melibatkan pemangkasan jumlah lemak badan dalam kuantitas yang signifikan sementara body contouring lebih berfokus pada area tertentu. Jumlah lemak yang dibuang pada prosedur body contouring akan lebih sedikit dengan presisi yang lebih terkontrol. Bayangkan seorang pembuat patung yang mengikis bagian-bagian tertentu biar lekuk-lekuk dan bentuk tubuh si patung lebih terdefinisi.
Weight Loss Surgery: Pro dan Kontra
Weight loss surgery ada bermacam-macam tipe prosedurnya, mungkin butuh artikel tersendiri untuk membahas ini. Tetapi, ada jenis operasi pada prinsipnya bertujuan untuk mengubah komposisi hormon dalam perut agar bisa memanipulasi rasa lapar dan rasa kenyang. Ada pula operasi yang secara fisik mengurangi ukuran entah lambung entah panjang usus. Macam-macam, mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Tapi jangan salah. Sekalipun sederhana dan memberikan efek instan, yang namanaya prosedur pembedahan pasti mebawa hasil positif dan risiko negatif.
Positifnya apa? Jelas, berat badan berkurang dengan cepat. Mereka-mereka yang punya kondisi medis terkait obesitas adalah kelompok yang paling diuntungkan dengan prosedur ini. Beberapa orang mengklaim bahwa penyakit yang mereka derita hilang setelah prosedur pembedahan termasuk diabetes tipe 2, gangguan tidur, dan tekanan darah tinggi. Lebih kurang 95% dari yang pernah menjalani operasi weight loss membaik kualitas hidupnya.
Negatifnya? Sebanyak lebih kurang 40% dari mereka yang pernah menjalani prosedur ini melaporkan sejumlah komplikasi pascaoperasi. Komplikasi yang dimaksud bisa langsung muncul begitu operasi selesai atau baru dideteksi lama setelahnya. Dan juga, tingkat keparahan komplikasi terkait dengan tipe atau jenis operasi yang dilakukan. Ada yang cuma bikin ga nyaman badan. Tapi banyak juga yang menimbulkan rasa sakit berkepanjangan sehingga membutuhkan pembedahan revisi untuk menghilangkan persoalan itu. Komplikasi jangka pendek meliputi infeksi pada luka bekas operasi, pendarahan berlebihan, dan masalah pada pernapasan. Dalam jangka panjang, komplikasi bisa menimbulkan gangguan pencernaan (mual, muntah-muntah, dan diare), hernia abdominal, dan malnutrisi.
Komplikasi yang lebih serius lebih bersifat langka, cuma 3% kemungkinannya. Tapi tetap mungkin terjadi dan bisa mengancam jiwa, termasuk: penggumpalan darah di paru-paru (embolism), kebocoran pada sambungan perut yang baru dibedah, pendarahan lambung, dan serangan jantung. Kebanyakan yang memiliki risiko seberbahaya ini adalah mereka dalam kelompok umur 60 tahun ke atas.
Operasi weight loss yang sukses pun tidak serta-merta meniadakan risiko. Masalah umum pascaoperasi meliputi: kulit yang melar (memerlukan tindakan operasi kosmetis lanjutan), malnutrisi dan kekurangan vitamin yang diakibatkan oleh proses penyerapan nutrisi yang tidak maksimal, dan batu ginjal—yang akhirnya mengharuskan si pasien kembali dioperasi untuk mengangkat batu ginjal.
Body Contouring: Macam-macam dan Risiko
Body contouring adalah prosedur kosmetis yang bertujuan untuk mengeliminasi lemak yang sulit dihilangkan pada bagian tubuh tertentu. Jadi sederhananya, prosedur ini tidak mengubah apapun di dalam tubuh secara signifikan. Recovery lebih cepat dan hasilnya bisa dinikmati hampir secara instan pula. Prosedur ini ada yang sifatnya non-invasif/non-bedah dan ada yang invasif/melibatkan pembedahan.
Body contouring tipe non-invasif tidak melibatkan tindakan pembedahan sehingga pasien bisa langsung beraktivitas segera setelah prosedur. Risiko yang ada pun minimal termasuk nyeri ringan, pembengkakan kecil, dan kulit kemerahan. Jenisnya ada bermacam-macam seperti cryolipolysis, laser lipolysis, radiofrequency lipolysis, dan injection lipolysis.
Body contouring tipe pembedahan meliputi liposuction, abdominoplasty (tummy tuck), breast rejuvenation (breast lift, pembesaran, pengecilan), brachioplasty (arm lift), panniculectomy, buttock lift, circumferential body lift (belt procedure), dan inner thigh lift. Itu baru sebagian yang mungkin umum ditemui. Seiring perkembangan teknologi dan tren, pasti nanti lebih banyak lagi operasi-operasi spesifik.
Bagaimana Supaya Body Contouring Lebih Efektif?

Fat burning injection sebagai salah satu alternatif untuk body contouring
Adalah sangat mungkin untuk mendapatkan pengurangan angka timbangan hanya dengan menjalani prosedur body contouring saja. Ditambah dengan risiko yang minim dan masa recovery yang singkat, bentuk tubuh yang ideal bisa didapatkan dengan cara yang lebih sehat, tidak membebani tubuh. Tapi, mengharapkan berat badan turun secara drastis, jika tidak ekstrim, lewat body contouring adalah hal yang sedikit mustahil. Jadi, gimana dong biar prosedur ini lebih efektif dan efisien?
“Ketika berat badanmu naik, itu bukan berarti badanmu memproduksi sel lemak baru…”
Pertama-tama, pahami dulu mekanisme penyimpanan lemak dalam badan. Semua manusia punya jumlah sel lemak yang tetap di dalam tubuhnya, tidak bertambah dan tidak dibuat ulang. Satu sel lemak bisa mengembang sangat besar demi mengakomodasi kandungan lemak yang diterima badan. Ketika berat badanmu naik, itu bukan berarti badanmu memproduksi sel lemak baru melainkan si sel lemak yang udah ada melar sangat besar sampai diameternya ga masuk akal. Nanti pas kamu beratnya turun, si sel lemak ini mengecil kembali karena isinya udah di-pake semua untuk menghasilkan energi. Tapi emang ada nih, sel lemak yang ga kecil-kecil meskipun kamu udah diet dan olahraga, terutama di bagian perut dan paha. Nah, body contouring—misalnya prosedur fat burning injection—bisa dipilih untuk menarget area ini secara langsung. Tubuh dipicu untuk lebih cepat menggunakan timbunan lemak sebagai sumber energi. Sederhananya, sel-sel lemak dibagian tubuh itu dihancurkan dengan terkendali. Dampaknya adalah ukuran area tubuh terkait terlihat lebih mengecil. Kamu kelihatan lebih ramping tapi bukan karena kamu kehilangan berat badan tapi karena kehilangan sel lemak. Kalaupun angka timbangan berkurang, itu karena kamu sudah kehilangan sejumlah sel lemak—yang dihancurkan demi memberi bentuk yang lebih definitif pada tubuh. Setelah komposisi jumlah sel lemak ideal didapatkan, kulit yang kendor bisa diketatkan lagi dengan prosedur lanjutan kayak pengencangan kulit perut kek, kulit pantat kek. Gitu-gitu deh.
Kedua, manage sel lemak yang ada. Setelah sel-sel lemak lain mayoritas sudah dibuang dan badan pun sudah lebih berbentuk, kamu wajib memperhatikan keadaan sel-sel lemak yang ditinggalkan. “Kenapa, Dok, kok ga semua selnya aja dibuang? Lebih simpel, kan?” Ibu, bapak sekalian yang terhormat, badan tetap butuh lemak, loh. Sel lemak yang ada dibutuhkan untuk menyimpan cadangan energi. Mereka juga membantu meregulasi suhu tubuh dan menjadi penyerap benturan supaya organ di dalam badan tidak cedera. Lagian kan tujuannya memberi bentuk pada tubuh dan itu butuh lemak. Kalo lemak ga ada, apa yang mau di-contour? Tulang? Otot? Otot doang yang di-contour juga ngeri, kali, guys. Yang ada malah nanti jadi kaya binaragawan. Binaragawan aja masih butuh sejumlah lemak dengan rasio terkendali supaya bisa kelihatan indah. Tambahan nih, kalau emang niatnya nurunin berat badan dengan membunuh semua sel lemak dalam tubuh, berat tetap bisa naik lewat pembesaran massa otot ketika berolahraga. Jangan fokusnya semua dipersembahkan untuk berat badan aja.
Jadi jangan dibuang semua. Yang ada aja yang dijaga setelah prosedur. Gimana caranya? Nah, dietlah yang benar. Olahraga yang teratur dengan porsi sebanding dengan aktivitas harian. Asupan kalori diperhatikan sewajarnya; jangan jadi control freak, apa-apa di-itung kalorinya. Ga sehat juga buat psikis. Percuma udah nurunin berat badan (apapun caranya) tapi makan ga dijaga, olahraga engga, kalori masuk ga pake keluar. Inget, sel lemak-mu punya kapasitas luar biasa untuk mengembang, berapapun jumlahnya yang tertinggal. Jadi kamu masih bisa keliatan gendut.
Ketiga, maintain massa otot. Dengan jumlah sel lemak yang turun dan dijaga supaya ukurannya kecil, kamu ga punya hal lain untuk dibentuk selain otot. Otot yang terdefinisi dengan tajam bisa membantu memberikan bentuk pada tubuh dan menjaga integritas keindahan badan. Pilih jenis olahraga yang menarget titik tertentu pada badan. Push-up misalnya untuk membesarkan otot-otot lengan. Atau squat untuk membidik area pinggul.
Body Contouring sebagai Solusi Estetika yang Menyeluruh

Estetika: Sehat, ramping, proporsional
Estetis itu adalah ketika semuanya udah on-point.
“Gimana tuh, Dok?”
Semuanya harus di-cover; ga bisa cuma satu atau dua aja. Iya, berat badan berlebih emang ganggu, itu bisa dimengerti. Tapi apa iya, kenaikan satu kilogram direspon dengan bikin janji buat tummy tuck atau setaun ga makan dan olahraga membabi-buta? Kan berlebihan. Concerned dengan segi estetis badan itu bagus. Rasa percaya diri meningkat gara-gara badan selalu in shape, angka timbangan selalu stabil, badan segar bugar, dan kulit berseri bersih. Dan kalo rasa percaya diri udah maksimal, rasanya kaya ga ada challenge yang di-kasi sama hidup yang ga bisa di-handle.
“…jangan membenci lemak.”
Tapi kalo semuanya dilakukan ga maksimal atau malah kebablasan, yang rugi juga kita. Uang habis banyak. Lemes terus-terusan. Ga produktif. Lusuh dan kusam kulitnya. Sakit-sakitan. Mau kaya gitu? Engga kan? Langsing dan ramping akan lebih indah jika disertai dengan berlekuk dan kencang. Apalagi kalau ditambah jiwa yang senantiasa bahagia setiap hari.
Poin yang kedua adalah jangan membenci lemak. Mudah menyalahkan lemak sebagai biang kerok penyebab kita gendut dan ga menarik—dan itu memang benar; benar bahwa lemak bisa membuat obesitas tapi itu hanya kebenaran parsial. Kita juga kok, yang bikin diri sendiri gendut. Makan berlebihan dan kurang bergerak membikin sel lemak bengkak dan gemuklah kita jadinya. Jangan musuhi lemak. Musuhi habit dan pola hidup tak sehat. Jauh-jauh dari pola hidup sedentary. Manage sel lemak-mu, poles ototmu. You’re the one in charge untuk membuat hidupmu bahagia.
Pingback: Fat-burning Injections: Apa, Kenapa, dan Bagaimana? | Yusri Dinuth