Stretchmarks Kudu Diapain Sih, Sebenernya?

Dari semua permasalahan kulit yang ada, stretchmarks kayanya jadi salah satu yang paling bikin horor, ya. Kulit dipenuhi “rekahan-rekahan” merah muda yang ga bakal bisa ilang. Mau kaya apa juga ga bakal pergi itu kondisi. Masa sih, semengerikan itu?

Pertama dan yang terutama, masalah kulit seperti ini dalam dunia dermatologi dikenal sebagai striae, striae distensae, striae athropicans, striae gravidarum dan bisa menyerang siapa aja, ga peduli jenis kelamin. Tapi emang sih, perempuan lebih rentan kena daripada laki-laki. Bentuknya berupa garis-garis atau guratan di permukaan kulit, mirip bekas luka, dengan warna yang lebih gelap dibandingkan kulit sekitarnya. Gurat-gurat kemerahan ini biasanya bisa ditemukan di beberapa area tubuh seperti perut, paha, pinggul, payudara, lengan atas, dan punggung bawah. Stretchmark biasanya muncul sebagai respons negatif dari kulit terhadap peregangan mendadak dan tidak dapat kembali ke keadaan normalnya dan ini merupakan sebuah kondisi kulit yang umum terjadi. Lebih dari 50% perempuan mengalami stretchmarks ketika masa hamil.

(Not so) Fun Facts tentang Stretchmarks

  • Kehamilan, pubertas, dan pertambahan berat badan secara signifikan adalah sebab-sebab umum stretch marks.
  • Treatment-treatment yang ada dewasa ini (yang diklaim ampuh menghilangkan stretch marks) belum didukung oleh dasar medis yang valid.
  • Stretch marks akan memudar seiring waktu, meskipun memang tidak sepenuhnya hilang. Stretch marks bukan sebuah kondisi yang membawa risiki kesehatan jangka panjang.
  • Area-area yang rentan terkena stretch marks meliputi area abdomen, payudara, pinggul, punggung bawah, pantat, dan paha.

Jadi jelas nih, ya, keberadaan stretch marks sebenernya bukan sebuah gangguan medis yang bisa mengancam nyawa dan keselamatan. Taaapi, orang-orang yang memiliki kondisi kulit seperti ini biasanya akan bermasalah dengan yang namanya citra diri dan kecemasan berlebihan. Untuk beberapa orang bahkan stretch marks bisa berubah menjadi persoalan kosmetis yang akan mempengaruhi hidup mereka secara umum.

Proses Terjadinya Stretch Marks

Ada tiga lapisan utama pada jaringan kulit dan stretchmarks terbentuk di area lapisan tengah atau dermis. Jaringan ikat pada lapisan kulit ini bisa melar sampai melewati batas elastisitasnya ketika kulit meregang sangat cepat.

Jaringan ikat pada lapisan dermis mampu meregang dalam batas tertentu untuk mengakomodasi pertumbuhan tubuh yang normal. Tapi pertumbuhan yang sangat cepat akan membuat lapisan dermis robek dan inilah yang membuat stretch marks berbentuk seperti bekas luka. Stretch marks akan berwarna putih mengilap karena lapisan lemak bawah kulit menjadi terekspos alih-alih pembuluh darah dan jaringan lain.

Stretch marks lebih cepat terbentuk dan bisa memburuk ketika kortison diproduksi dalam tingkat yang sangat tinggi atau ketika kulit terpapar pada kortison. Kortisol, si hormon stres yang diproduksi oleh kelenjar adrenal, akan dikonversi menjadi kortison dan ini bisa menyebabkan serat-serat elastis pada kulit menjadi lemah.

Tanda-tanda dan Gejala

Kemunculan stretch marks biasanya ditandai dengan penipisan lapisan kulit dan warna merah muda. Di beberapa kasus, gejala ini juga disertai dengan rasa perih dan gatal. Pada awalnya guratan kulit akan terlihat mengerut  dan jendul-jendul. Warnanya berubah menjadi merah, ungu, coklat kemerahan, atau coklat tua—tergantung pada jenis dan warna kulit. Guratan ini akan memudar dan menipis seiring waktu dan warnanya akan berubah keputihan. Stretch marks bisa jadi terlihat sangaaat samar tapi butuh waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya guratan-guratan yang ada jadi pupus.

Penyebab dan Faktor Risiko

Sebab umum stretch marks adalah:

  1. Tadi udah disinggung dikit; antara 50-90% perempuan yang menjalani periode kehamilan akan mengalami stretch marks, baik pada saat hamil maupun sesudahnya.
  2. Pertumbuhan fisik yang pesat di kelompok usia remaja akan memaksa kulit untuk meregang.
  3. Kenaikan berat badan secara signifikan. Ketika berat badan bertambah dalam jangka waktu singkat juga bisa membuat kulit meregang mendadak.
  4. Kondisi medis tertentu. Sindrom Marfan dapat menurunkan tingkat elastisitas kulit sementara Sindrom Cushing membuat tubuh menghasilkan hormon yang berperan dalam peningkatan berat badan dan membuat kulit “rapuh”.
  5. Penggunaan kortikosteroid. Penggunaan kortikosteroid dalam jangkan waktu lama (baik krim atau lotion) bisa menurunkan jumlah kolagen dalam kulit. Kolagen berperan dalam memperkuat dan menyokong kulit.

Faktor risiko:

  1. Riwayat keluarga,
  2. Penyakit kronis,
  3. BMI (body mass index) sebelum hamil, dan
  4. Berat badan bayi dalam kandungan pada perempuan hamil,

Diagnosis

Pendiagnosaan stretch marks biasanya dilakukan dengan cara pemeriksaan langsung terhadap kulit. Secara umum stretch marks biasanya tidak menyebabkan keluhan medis meskipun di beberapa kasus langka, kondisi kulit ini merupakan gejala dari gangguan lain yang harus ditangani.

Pengobatan dan Pencegahan

Baaanyak banget orang yang nyari tau tentang cara menghilangkan stretch marks. Tapi biasanya nih ya, kalo stretch marks udah muncul, ya udah, ga bakal bisa ilang. Kalau pun yang namanya obat penghilang stretch marks itu ada, yang paling mungkin buat diarepin cuma efek memudarkan. Permukaan kulit tetap bakal kaya ada guratan-guratan gitu walopun mungkin ga sekasar pas pertama muncul. Beberapa pilihan perawatan biasanya mahal dan ga selalu efektif. Alternatif lain pun masih jadi pertanyaan. Krim, gel, lotion, bahkan bedah kosmetik digadang-gadang sebagai penghilang stretchmarks yang mumpuni meskipun, lagi-lagi, keefektifannya masih jadi perdebatan kok.

Yang jadi masalah, stretch marks ga selalu bisa dicegah kemunculannya. Taaapi, ada beberapa cara yang bisa diambil untuk menurunkan risiko.

  1. Jaga berat badan ideal,
  2. Hindari pola diet yo-yo,
  3. Atur pola makan yang kaya akan vitamin dan mineral dan tingkatkan asupan vitamin A dan C serta mineral zinc dan silikon yang bisa mendukung kesehatan kulit,
  4. Usahakan berat badan berkurang perlahan dan bertahap selama kehamilan,
  5. Minum 6 hingga 8 gelas air setiap hari.

Takeaway

Naaah, Teman DRYD, udah paham dong yaaa stretch mark itu kondisi normal. Semuanya cuma konsekuensi logis dari proses biologis yang terjadi pada tubuh. Ga perlu panik, ga usah berlebihan menanggapinya. Yang pertama-tama perlu dilakukan ketika mendapati tubuh yang terkena stretch marks adalah menciptakan citra tubuh positif. Tubuh kita adalah tubuh kita, apa pun keadaannya—apalagi ini adalah sebuah proses alami. Kalo mau dicari salah siapa dan kenapa, ya kita juga kok yang teledor. Kenapa dulu ga dijaga makannya? Kenapa dulu berat badan ga dikontrol naiknya?

Tapi ya udah; yang udah kejadian ya udah biarin. Rawat semasuk akalnya aja. Jangan kecewa pas nemuin krim mahal yang dibeli online ternyata ga ada hasil dan ga membawa perubahan apa pun. Jangan kecil ati. Seengganya warnanya bisa dibikin pudar kok. Stretch marks memudar akan jauh lebih baik daripada engga sama sekali kan? Tapi ya sabar. Orang kulitnya “pecah” aja butuh waktu, mudarin penampilannya juga butuh timeframe tertentu juga kali….

Boleh pake body lotion untuk stretch mark yang diiklanin di internet—selama kandungan bahan di dalamnya ga beracun dan berbahaya buat badan. Gapapa pake krim ini, salep itu, gapapa banget. Namanya juga usaha, kan?

Yang namanya cara menghilangkan stretch mark di perut itu agak sedikit seperti khayalan semu. Daripada ngabisin waktu dan energi nyari salep untuk menghilangkan stretch marks sampe ke ujung dunia dan ke tujuh samudra, mendingan mindset kitanya yang diganti deh. Jangan berfokus ke “mengobati”, tapi coba dijaga supaya stretch mark-nya ga muncul. Gimana caranya? Yang termudah adalah coba deh mulai sekarang rajin pake lotion, terutama di bagian-bagian badan yang rentan terkena. Produk-produk seperti lotion atau yang lainnya bisa mem-promote kulit yang sehat dan segar sehingga ga gampang melar terus “sobek”. Konsumsi makanan sehat kaya vitamin dan mineral bisa meningkatkan produksi kolagen kulit jadi elastisitasnya tetap terjaga. Kalo asupan nutrisi buat kulit udah terpenuhi dan maksimal dan stretch marks tetap muncul, jangan frustrasi. Saatnya kita mencintai stretch marks karena itu adalah bagian dari kita—tapi ga semestinya menjadi satu-satunya hal yang mendefinisikan jati diri kita, siapa kita, dan bagaimana kita menilai diri sendiri.

Your One-Stop Choice for a Skin Treatment Solution

Haaalo Teman DRYD,

Di rubrik (aelah, rubriiik…) Must-try kali ini, saya mau memperkenalkan satu produk skin treatment yang oke punya. Beklah, langsung aja saya perkenalkaaan… Serum Klinik DRYD!!!

Yah, kok malah jualan, Dok?

Ya gapapa dooong, sekali-kali ah promoin diri sendiri. Kan siapa tau produknya berguna bagi nusa dan bangsa dan turut memperkaya pilihan solusi kulit glowing se-Indonesia.

Serum ini saya ramu (kok kayak penyihir ya, jadinya?) sendiri dengan tangan saya menggunakan bahan-bahan natural yang saaangat bermanfaat dalam memberikan hasil paripurna setelah digunakan. Taaapiii, saya ga bosen-bosen, ga cape-cape ngingetin pemirsa nih, sebagus apa pun produk kalo penggunaannya ga rutin dan ga konsisten ya percumaaa.

Kenapa saya merekomendasikan ini? Pertama, karena ini racikan sendiri, saya bisa kontrol langsung produksinya, takarannya, keasliannya, gitu-gitu. Kedua, bahannya alami semua jadi aman banget buat penggunaan harian. Ketiga, ini ga pake pengawet, kulit jadi ga kepapar bahan kimia berlebihan. Keempat, teruji secara klinis, jadinya bukan kaleng-kaleng yaaa.

Penggunaannya juga simpel. Boleh dipake pagi ato malem sehabis cuci muka dan pake toner. Ratakan di seluruh wajah dan tepuk-tepuk ringan pake jari ato telapak tangan sampe menyerap ke kulit seluruhnya. Serumnya berfungsi tripel: mencerahkan kulit, meratakan warna kulit, dan memudarkan noda hitam dan bekas jerawat juga. Semua manfaat ini dihasilkan dari kombinasi bahan alami serum.

Ada niacinamide di kandungannya. Zat ini bisa mengatasi jerawat, memudarkan noda pada kulit, membuat kulit lembap, berperan dalam pengendalian produksi minyak, mengurangi kerutan dan garis-garis halus, memperkuat sistem imun kulit, dan mengatasi hiperpigmentasi.

Ada almond juga di dalam serum ini. Beberapa manfaat almond oil adalah membantu mengatasi kantung mata, memperbaiki warna kulit yang tidak rata, mengatasi kulit kering, menghilangkan jerawat, memperbaiki kerusakan akibat terpapar sinar matahari, memudarkan bekas luka, dan membantu memperhalus kulit. Minyak almond juga mengandung vitamin dan kaya akan mineral.

Ada tranexamic acid sebagai elemen pelengkapnya. Kegunaan tranexamic acid untuk kulit adalah membantu mengurangi peradangan, menghambat pembentukan tirosinase (enzim yang memicu pembentukan melanin) dalam melanosit dan menghentikan alur pigmen dari melanosit ke epidermis, menenangkan kulit, den mengembalikan fungsi barrier pada kulit. Tranexamic acid aman digunakan secara topikal dan mampu menurunkan tingkat sensitivitas kulit terhadap sinar UV.

Dengan segudang manfaat kaya gini, it’s definitely a must-try for me, indeed.

P.S. Kalo mau tanya-tanya lebih lanjut ato kalo berminat, silakan langsung kontak admin klinik DRYD, yaaa. Selamat mencobaaa!

Memukul dan Menggigit: Ketika Anak Cuma Tahu Ekspresi Fisikal untuk Berkomunikasi

Beberapa orang di dekat saya sempat mengeluh tentang anak yang tiba-tiba suka sekali menggigit atau memukul mereka. Awalnya si buah hati maniiis banget. Tau-tau, ga ada ujan ga ada badai, kebiasaannya jadi berubah lebih agresif. Saya jadi kasian karena kondisi begini biasanya gampang banget bikin si ortu jadi kepikiran. Kaya, mereka jadi otomatis mikir, “Apa sih sebenernya yang salah? Apa saya salah didik apa gimana? Apa ada faktor tertentu di dalam rumah yang bikin anak saya jadi seagresif ini ya?” Itu baru sebagian kecil contoh overthinking ortu ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya yang tadinya berperilaku sweet bak malaikat tiba-tiba berubah jadi monster.

Yang jadi masalah lebih besar lagi adalah bahwa si buah hati ga cuma ngejadiin ortunya sendiri sebagai sasaran. Orang lain, terutama teman-teman sebayanya, juga bisa kena. Siapa yang ga stres dengan situasi macam begini? Digigit atau dipukul anak itu emang sakit, apalagi anak-anak ga bisa ngukur efek dari tindakannya itu. Main gigit atau pukul aja. Kadang sampe bikin kulit memar dan bahkan mungkin berdarah. Tapi rasa sakit fisikal ini kalah mengkhawatirkan dibandingkan dengan kemungkinan si anak berubah menjadi bully saat dia nanti masuk sekolah.

Memukul atau menggigit sebetulnya pola perilaku yang lambat laun bisa hilang seiring dengan pertambahan usia si anak. Tapi akan lebih baik jika tindakan seperti ini bisa ditangani sejak dini sebelum berubah menjadi pola perilaku yang lebih sulit untuk dikoreksi di masa depan. Konsep dasarnya seperti ini: Perilaku agresif pada anak-anak umur di bawah tiga tahun itu lebih mengarah kepada masalah “latihan” yang minim ketimbang kenakalan murni. Batita adalah makhluk yang baru lepas dari gendongan ibunya, skill sosial dan komunikasi mereka saaangat terbatas dengan jumlah kosa kata yang bahkan jauh lebih minim lagi. Makanya, mereka menggunakan cara menggigit atau memukul orang lain sebagai cara untuk menyampaikan protes atau ketidaksetujuan yang mereka rasakan karena cuma itu yang mereka anggap logis. Nalarnya belum sempurna. Empatinya belum berkembang sempurna. Mereka ga suka sama sesuatu tapi karena keterbatasan daya penyampaian, mereka beralih pada ekspresi fisikal untuk menyampaikan apa yang dirasakan. Kitalah sebagai orang tua, manusia dewasa yang logika dan empatinya udah jauh lebih matang, yang seharusnya bisa mengajarkan si anak untuk mengembangkan kemampuan sosial yang lebih baik tanpa mengambil jalan yang justru bikin kebiasaan menggigit dan memukul jadi makin buruk.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan dan Apa yang Semestinya Dihindari?

Yang jangan dilakukan adalah:

Pertama, JANGAN PERNAH memukul balik si anak dan berpikir itu akan menjadi sarana pembelajaran bagi si anak. Sadar ga sih, ketika kita memukul buah hati kita karena kelakuannya itu hanya akan memberikan pembenaran buat dia sendiri? Berpikir bahwa memukul adalah tindakan pendisiplinan yang efektif itu cuma bakal bikin si anak mikir kalo kekerasan fisik itu bisa diterima. Orang tuanya aja suka mukul, apalagi anaknya.

Kedua, JANGAN PERNAH memberikan hukuman dalam bentuk apa pun. Tujuan kita adalah membantu anak untuk mengelola semua emosi yang dia rasakan. Tapi pemberian hukuman justru bakal jadi kontraproduktif karena itu hanya akan membuatnya berpikir bahwa dirinya adalah jahat dan nakal. Ini, pada prosesnya nanti, hanya akan memperburuk perilaku agresifnya.

Ketiga, JANGAN PERNAH memusingkan apa yang orang lain katakan. Berkaitan dengan kasus anak suka memukul atau menggigit, fokus kita harus seratus persen diberikan kepada si anak, bukan kepada nama baik kita sebagai orang tua atau pendapat orang lain. Jadi jangan pernah takut kalo perilaku anak akan membuat imej kita buruk dan dianggap sebagai orang tua yang tidak handal. Semua orang punya porsi masing-masing. Semua orang punya cara masing-masing.

Keempat, JANGAN PERNAH memaksa si anak meminta maaf atas perbuatannya. Kata kuncinya di sini adalah “memaksa” ya. Batita mungkin sudah fasih meminta maaf tapi permintaan maaf dari seorang batita itu ga pernah tulus kok. Mereka cuma minta maaf buat keluar dari kemungkinan dimarahi. Jadi gimana? Ga mungkin dibiarin aja kan? Tentunya engga. Ketika si anak sudah lebih tenang dan tantrumnya ilang, ajak dia bicara sesederhana mungkin tentang apa yang bisa dia lakukan untuk memperbaiki situasi atau tentang bagaimana dia bisa membuat si orang yand digigit atau dipukul merasa lebih baik. Caranya gimana? Coba berikan gambaran tentang tindakan kebajikan ke si anak. Atau kalo bisa didemonstrasikan langsung tindakan kebajikan itu malah lebih baik. Kita bisa ngajarin si anak buat bertanggung jawab atas tindakannya sendiri dan berempati pada orang lain juga.

Yang sebaiknya dilakukan adalah:

Pertama, monitor buah hati kita. Batita itu kaya cuaca, susah banget ditebak. Tapi sebagai orang tua kita mungkin punya cara tersendiri buat mengenali fase frustrasi atau kelelahan anak kita sendiri ketika sedang bermain dengan anak-anak lain. Begitu kita menangkap sinyal buruk dari suasana hati si anak, langsung aja deh dia dibawa pergi sebelum keadaanya makin buruk.

Kedua, tetaplah tenang. Kita orang tua juga manusia jadi bisa dimengerti ada rasa kesal ketika anak bertingkah tidak pantas. Tapi hasil positif bisa lebih mudah didapatkan jika kita tetap tenang dalam situasi anak memukul atau menggigit. Jika kita menunjukkan kekesalan dengan gamblang, si anak akan malah ketakutan dan ini mempersulit dirinya untuk mempelajari nilai-nilai yang mau kita sampaikan. Plus, si anak akan menyadari bahwa orang tuanya memberikan respons secara signifikan ketika dia melakukan kesalahan dan akhirnya berpikir bahwa perhatian orang tua cuma bisa didapatkan melalui sifat nakal—yang artinya kita gagal memperbaiki sifatnya.

Ketiga, berempatilah dengan anak dan buat batasan. Jangan gengsi buat menyampaikan pada anak bahwa kita memahami emosi yang ia rasakan dan berikan pengertian padanya bahwa apa yang ia rasakan bukan alasan pembenaran untuk tindakannya.

Keempat, tenangkan si anak. Ajarkan kepada anak untuk menenangkan diri dengan cara pernapasan perut, pemberian pelukan, atau bahkan menyanyikan sebuah lagu. Tujuannya adalah memberikan kesadaran pada anak bahwa dialah yang punya kuasa atas segala bentuk emosi yang dirasakannya tanpa perlu membiarkan dirinya meledak.

Kelima, cobalah mempraktikkan “redo”. Begitu anak sudah cukup tenang, ajak dia membayangkan alternatif berbeda dari apa yang sudah dia lakukan lain kali. Tapi kita kudu sabar juga, emosi mentah yang dirasakan si anak bisa terlalu kuat dan kebiasaan baru itu butuh waktu buat dipelajari.

Keenam, praktikkan strategi alternatif. Ajak anak main boneka dan pancing dia untuk mempraktikkan apa yang mungkin dia bisa lakukan ketika merasa frustrasi, termasuk pergi menjauh, meminta tolong, atau menggunakan kata-kata yang tepat untuk menyampaikan apa yang dia rasakan. Yang perlu diingat, strategi ini mungkin ga bakal menunjukkan hasil dalam waktu singkat tapi menerapkannya sejak dini dan reguler adalah kunci.

Mengatasi Perilaku Agresif pada Anak di Atas 3 Tahun

Cara mengatasi anak yang suka memukul atau menggigit pada rentang usia di bawah 3 tahun emang cukup menyita perhatian. Tapi ketika anak di atas 3 tahun masih suka agresif, semuanya berubah menjadi luar biasa melelahkan karena asumsinya adalah mereka udah sepantasnya tahu baik-buruk dan benar-salah. Sebaiknya kita ga langsung mengklaim bahwa si anak udah bakat buat jadi bully. Yang lebih penting untuk dilakukan adalah memahami bahwa “kenakalan” macam ini tuh aslinya pertanda bahwa si anak perlu dilatih dengan strategi pengendalian impuls.

Terlebih dulu buang jauh-jauh kecenderungan untuk mencap anak sebagai anak yang nakal, kasar, dan agresif karena label seperti ini akan membuat anak kecil hati dan memperburuk perilaku negatif yang udah ada.

Mengatasi perilaku agresif pada anak usia di atas 3 tahun bisa dibagi menjadi 3 kelompok: sebelum, pada saat, dan sesudah sebuah insiden.

Sebelum insiden

  1. Pastikan anak istirahat dengan cukup. Anak akan lebih mudah mengendalikan impuls mereka ketika kebutuhan tidurnya tercukupi.
  2. Jangan berlama-lama berkunjung ke tempat orang lain. Ketika anak sudah sangat bosan berada di satu tempat, dia akan lebih mudah melancarkan sikap agresif.
  3. Jangan melewatkan waktu tidur siang atau waktu beristirahat secara umum. Bermain bersama teman atau mengunjungi anggota keluarga akan terasa lebih menyenangkan jika anak punya cukup waktu untuk beristirahat.
  4. Selalu penuhi kebutuhan anak akan perhatian. Berikan perhatian yang positif pada anak setiap hari. Sisihkan waktu untuk mendengarkan cerita mereka untuk membangun ikatan emosional dan menenangkan impuls si anak.
  5. Ajarkan strategi resolusi konflik yang positif. Dorongan anak untuk bertindak agresif akan terkendali jika dia sudah mempelajari strategi-strategi seperti penggunaan frase “aku merasa…”, pergi meninggalkan sumber konflik, tidak mengindahkan, mencari jalan tengah, atau semacamnya.
  6. Jangan langsung merespon begitu sikap agresif muncul. Ikuti alurnya jika si anak menggunakan kata-kata untuk berargumen. Tapi begitu tanda-tanda perilaku kasar dan agresif terlihat, langsung tenangkan dirinya dan carilah jalan keluar yang lebih baik.
  7. Pujilah anak ketika dia berhasil tetap tenang. Jangan pelit mengeluarkan pujian ketika memang pujian itu pantas diberikan, terutama ketika anak berhasil tetap mengendalikan emosinya di bawah tekanan.
  8. Rancang jadwal kegiatan fisik yang proporsional. Beberapa anak memang lebih cenderung bersifat fisikal dan itu adalah kenyataan yang ga bisa ditampik. Menjadwalkan kegiatan fisikal bisa menjadi alternatif buat si anak untuk menyalurkan energinya yang berlebihan.
  9. Terapkan cara berkomunikasi yang penuh kedamaian. Jika suasana rumah dipenuhi rasa menghargai, kemungkinannya akan sangat kecil buat si anak untuk bertindak agresif.

Pada saat insiden

Untuk trik ketika anak melakukan tindakan kasar dan agresif, secara umum sama seperti apa yang dijelaskan pada bagian mengatasi anak batita yang suka menggigit dan memukul: jangan memukul balik, jangan menghukum, jangan memikirkan pendapat orang lain, berempati dan berikan batasan, dan tetaplah bersikap tenang. Tambahannya adalah, jangan lupa memastikan pihak yang menjadi objek perilaku anak kita baik-baik saja—jika melibatkan orang lain. Jika si anak sudah lebih tenang, kalo bisa ikutsertakan dia dalam proses khusus ini jadi dia juga bisa belajar lebih jauh tentang empati dan tentang bagaimana tindakannya akan mempengaruhi orang lain.

Setelah insiden—Untuk dilakukan pada saat situasi sudah lebih tenang

  1. Jalankan skenario role-play. Ajarkan anak bagaimana memberikan respons tanpa perlu melibatkan tindakan kasar. Misalnya dengan menggunakan kata-kata, meminta bantuan pada orang dewasa, atau pergi meninggalkan sumber konflik.
  2. Praktikkan strategi menenangkan diri. Metodenya banyak, mulai dari pernapasan perut sampai ke pola menghitung sampai angka 10.
  3. Buat sinyal nonverbal rahasia. Isyarat ini bisa digunakan untuk menunjukkan kepada anak kapan dia perlu mempraktikkan strategi menenangkan diri.
  4. Sadari bahwa kendali impuls adalah hal yang sulit untuk dilakukan oleh anak-anak.

Menghardik dan Bahayanya

Ketika menghadapi kondisi anak suka menggigit atau memukul, udah pasti kita akan ngerasa kesel dan frustrasi. Naluri kita sebagai manusia cenderung ingin segera merespon perilaku si anak ketika tingkahnya ga sesuai dengan harapan. Tapi sekesal apa pun kita, seemosi apa pun kita dibuatnya, jangan pernah meneriaki anak apalagi memaki. Ada banyak dampak negatif dari menerapkan pola pendisiplinan yang terlalu keras dan ini juga yang bikin menghardik a big NO ketika kita mau mendidik anak yang perilakunya agresif. Frustrasi itu normal. Jengkel dan kesal itu alami. Kita juga manusia, sekalipun kita adalah orang tua. Tapi begitu merasakan ada dorongan untuk menghardik anak, coba ingat-ingat hal berikut ini:

  1. Hardikan hanya akan memperburuk perilaku anak.

Sangat mudah membayangkan bahwa teriakan kepada anak akan menyelesaikan semuanya dengan cepat dan memberi tahu si anak apa yang boleh apa yang ga boleh dilakukan. Tapi penelitannya udah ada tentang hardikan yang justru malah bikin permasalahan lebih banyak dalam jangka panjang. Hardikan akan memperburuk perilaku negatif anak yang akhirnya kita malah harus menghardik lebih keras lagi dengan harapan semuanya selesai. Dan lingkaran setan pun dimulai.

  1. Hardikan dapat mengganggu perkembangan otak anak

Otak manusia memproses input-input negatif lebih cepat daripada yang positif. Ketika anak terpapar makian dan teriakan di masa kecilnya, akan ada kelainan mencolok pada bagian otak yang memproses suara dan bahasa.

  1. Hardikan bisa berujung depresi.

Bentakan dari orang tua itu ga cuma membuat anak merasa sakit, takut, dan sedih. Kekerasan verbal berpotensi menciptakan gangguan psikologis yang lebih dalam di diri anak dan permasalahan ini bisa terbawa sampai saat ia dewasa.

  1. Hardikan berpengaruh terhadap kesehatan jasmani dan berpotensi menyebabkan penyakit kronis

Kekerasan verbal di masa kecil bisa membuat anak mengalami berbagai gangguan kesehatan seperti nyeri sendi, sakit kepala, dan gangguan pada punggung dan leher.

Daripada menghabiskan energi dengan meneriaki anak dengan harapan bisa mendisiplinkannya, mending belajar cara berkomunikasi yang baik dengan anak deh. Rumah terasa lebih damai dan risiko besar di masa dewasa pada anak bisa ditekan sedalam mungkin.

Jalan Kaki, Slimming, dan Self-care

Hai Teman DRYD,

Hayooo, siapa yang ga suka jalan kaki? Berjalan kaki itu emang aktivitas yang normal banget. Kita bisa sampe ke satu titik dari titik yang lain ya dengan berjalan kaki, kan? Masa iya, ngesot. Jaman dulu juga pas sebelum ada yang namanya kendaraan, manusia berpindah tempat dengan menggunakan kedua kakinya kok. Jadi kemampuan berjalan kaki itu tuh sebenernya karakteristik utama yang membedakan kita dari benda mati atau tumbuhan, misalnya. Poinnya sekarang, Teman DRYD pada ngerti gaaa, kalo ternyata berjalan kaki itu punya efek positif terhadap fisik dan mental kita?

“Oh, kalo dampak positif ke badan ya iya dong, Dok, namanya juga aktivitas fisik. Tapi masa sih, bisa ngefek ke mental?”

Naaah, sebelum kita bahas yang itu, kita perlu tau dulu gimana sih supaya “berjalan kaki” bisa berubah menjadi “olahraga jalan kaki”. Karena sifatnya yang udah jadi bagian dari karakter kita sebagai manusia, berjalan kaki sering banget dipandang remeh. “Kok bisa, Dok?”

Ya kan kita bisa aja jalan dari kamar ke dapur. Ato dari ruang tamu ke kamar mandi. Udah keitung jalan, kan itu? Tapi supaya berjalan kaki bisa efektif dan memberikan manfaat, diperlukan yang namanya durasi. Ga bisa nih, cuma jalan di bawah lima detik terus mikir, “Ah, udah berolahraga nih.” Yeee, ga bisa gitu juga. Berjalan kaki yang efektif itu minimal 15 menit sampe 30 menit—45 menit deh, buat yang emang segitu dedicated-nya. Dan ini harus dilakukan harian loh, ya. Nanti kita bahas kenapanya.

Argumen bahwa berjalan kaki bisa memiliki dampak positif terhadap kesehatan mental itu didukung penelitian ilmiah loh dari Harvard T.H. Chan School of Public Health. Jadi bukan klaim kaleng-kaleng deh. Penelitian itu menemukan bahwa gerakan berjalan cepat dalam frame durasi yang ditentukan ternyata bisa banget nurunin kemungkinan depresi. Tapi ya itu tadi, kudu ada yang namanya pola gerakan, durasi, dan frekuensi. Kalo cuma jalan dalem rumah mah, ga bakal ada perubahan apa pun.

Gaya hidup yang aktif emang berimbas ke kebugaran jasmani yang terjaga. Tapi sebaiknya kita ga ngeliat ini semua sampai di sana aja. Gini, pernah denger dong jargon “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat”? Mungkin ungkapan ini udah sering banget Teman DRYD denger sampe-sampe jadi kehilangan maknanya. Seklise apa pun ungkapan itu, intinya tetep bener banget. Kalo badan kita udah sehat, cuma urusan waktu sebelum mental kita juga ikutan sehat. Ngarepin hidup yang bebas stres dan jauh dari risiko depresi tanpa berolahraga dan mengembangkan lifestyle yang aktif dan dinamis itu sama dengan ngarepin badan kurus tanpa effort. Lebih gede kemustahilannya ketimbang kemungkinannya terjadi. Gaya hidup yang sedentary itu berujung kepada penumpukan lemak yang akhirnya mengundang berbagai macam penyakit. Nah, kalo udah begini, ga usah repot-repot deh ya, ngebahas gimana keadaan mental.

Pandemi virus corona sekarang ini juga bikin keadaan makin buruk. Ga ngebantu mereka-mereka yang udah lah idupnya sedentary, pola makannya juga ngaco, eh ketambahan pula sama overthinking gegara wabah yang ga jelas kapan kelarnya. Hubungan antara hidup aktif dengan mental sehat itu eraaat banget. Kenapa? Ketika kita bergerak, otak memerintahkan tubuh untuk memproduksi endorfin. Asupan endorfin inilah yang bikin suasana hati jadi bagus, ga mood swing, ketegangan di pikiran berkurang, dan stres pun menjauh.

Pada prinsipnya, sama kaya kalo pas kita ngegym. Cuma, bedanya berjalan kaki dan berolahraga beneran ada di pola, frekuensi, dan durasi. Kalo ngegym nih ya, kita mungkin udah bisa ngerasain efeknya setelah satu kali berolahraga selama 45 menit. Kalo berjalan kaki, beda. Berjalan kaki itu rada monoton, artinya aktivitasnya ga bener-bener menarget seluruh elemen tubuh. Paling yang berasa banget itu kaki kan ya. Nah, biar bener-bener bisa ngaktivin seluruh anggota badan, kita kudu:

  1. Meratiin pola karena berjalan pelan dan cepat itu impact-nya beda. Kalo kita jalannya pelan aja, butuh waktu lebih lama buat menarget semua otot di badan. Alhasil, yang tadinya mungkin cuma butuh 45 menit maksimal, jadi perlu jalan selama sejam, misalnya.
  2. Berjalan kaki setiap hari. Karena sifatnya low-impact, hasil positif berjalan kaki baru bakal kerasa kalo kita ngelakuinnya setiap hari.
  3. Menuhin target menit harian. Ini tadi udah sempet kita bahas sebelumnya ya. Jalan 10 detik sama jalan 30 menit udah beda hasil dong.

Dari ketiga faktor itu, masalah frekuensi mungkin yang paling jadi kendala di jaman sekarang. Baaanyak banget alasan yang bikin kita ogah jalan. Kesibukan, pekerjaan, dan keterbatasan fasilitas adalah yang paling umum. Kesibukan sehari-hari bikin kita ga punya waktu buat sekadar jalan. Pekerjaan yang kita punya mungkin udah menyedot energi banget. Jalanan penuh sesak sama kendaraan, bahkan punggung jalan pun dipenuhi orang jualan. Taman kota minim. Trus gimana dong ini…?

Gampang.

Berjalan kaki itu udah sifat dan karakter dasar manusia kan? Ini bikin semuanya lebih mudah buat kita nyelipin aktivitas yang satu ini di kehidupan sehari-hari kita. Ke kantor, kalo deket, ya jalan aja berangkatnya. Pastinya kudu ngukur waktu juga. Di kantor, hindari elevator kalo ada, pilih tangga aja. Di rumah, jalan aja di halaman. Oh, ga ada halaman karena tinggal di perumahan. Malah lebih baik kan? Area jalan di dalam kompleks biasanya lebih sedikit kendaraan yang seliweran. Tinggal kitanya aja, mau apa enggak. Apa tetep lebih mentingin nonton tivi ato rumpi sama ibu-ibu kompleks?

Sekadar saran nih, kalo bisa coba beli pedometer. Alatnya kecil doang, diselipin di celana juga bisa. Fungsinya buat ngitung berapa jumlah langkah kaki kita per hari. Ini juga segi fleksibilitas berjalan kaki, dia ga nuntut durasi yang kudu full gitu, ga kaya ngegym. Bisa dicicil, nanti akumulasi jumlah langkah kaki di akhir hari itu yang kita liat. Tapi ini mengharuskan Teman DRYD buat nyari tau berapa banyak jumlah langkah kaki per hari yang dinilai punya dampak sehat ya. Nanti kalo Teman DRYD udah pada kebiasa jalan, bakal banyak banget efek baiknya kerasa di badan. Apa aja contohnya?

Efek Positif Berjalan Kaki buat Badan

Pertama, berjalan kaki bisa ngecilin badan. Efek slimming dari berjalan kaki ada pada kemampuannya buat ngebakar kalori secara konsisten. Iya, mengingat berjalan harus dilakukan setiap hari supaya efeknya terasa, logika orang-orang mungkin akan menolak buat percaya bahwa “konsistensi” adalah sebuah hal yang diharapkan. Kan bosen juga tiap hari ngelakuin hal yang sama. Tapiii, lagi-lagi, karena berjalan adalah sebuah aktivitas alami yang biasa kita lakukan, faktor kebosanan bisa diminimalisasi kok. Beda sama ngegym yang emang perlu pembiasaan selama beberapa kurun waktu lamanya sebelum bisa alami kita lakukan, berjalan kaki udah kita lakuin dari kita kecil kan. Sedikit catatan lagi nih, Teman DRYD; supaya berjalan kaki bisa bener-bener ngasilin efek pengurangan angka timbangan, ada faktor lain selain frekuensi, durasi, dan pola yang harus dipertimbangkan. Ada masalah jarak dan kontur medan yang bermain di sini supaya jumlah kalori yang terpakai bisa maksimal. Emang sih, berjalan dengan jarak pendek mungkin bisa berefek sama dengan berjalan dalam jarak yang lebih panjang, terutama jika dilakukan berulang-ulang. Tapi pola perulangan yang monoton berisiko membuat rasa bosan hinggap lebih cepat. Pertimbangin deh, rute yang lebih jauh. Selain pemandangan yang berbeda akan membuat mata lebih segar, jarak tempuhnya juga bisa dua kali lebih besar sehingga kalori yang dibutuhkan juga lebih banyak. Contoh, kalo misalnya biasanya cuma jalan kaki 30 menit bolak-balik jalan depan rumah, jarak tempuhnya akan lebih singkat karena kan rumahnya deket banget buat balik. Kepeleset juga nyampe. Next time, coba ganti rute. Mungkin ke warung di luar kompleks perumahan. Ato mungkin ke lapangan bola di kompleks sebelah. Waktu yang dibutuhkan buat sampe ke lokasi dan balik lagi ke rumah akan lebih banyak, durasi lebih lama, jarak lebih jauh, dan kalori yang terbakar pun lebih besar.

Kedua, fungsi dan kerja jantung jadi lebih baik setelah melakukan ritual berjalan kaki selama seengganya 30 menit sehari selama lima hari. Risiko penyakit jantung koroner udah drop sebanyak 19% cuma dengan ngelakuin ini secara reguler. Kalo durasi dan jarak ditambah, persentase penurunannya bisa lebih besar lagi pastinya. Berjalan kaki juga secara umum meningkatkan kemampuan kita buat meminimalisasi potensi penyakit apa pun sebetulnya. Ini karena ketika kita berjalan, kita membawa beban berat tubuh di setiap langkah kaki. Dalam dunia fitness, kondisi ini serupa dengan latihan tahan beban. Apa manfaatnya aktivitas model begini? Tulang lebih kuat, keseimbangan tubuh terjaga, lemak jahat berkurang porsinya, beberapa kondisi medis bisa dikelola lebih baik (misalnya arthtritis, kekakuan sendi dan otot, diabetes, kolesterol, dan hipertensi), risiko stroke dan penyakit jantung dan paru-paru pun menurun.

Keempat, imunitas tubuh akan terasa lebih mumpuni. Berjalan kaki menurunkan potensi terserang flu dan ini dibuktikan oleh sebuah studi oleh British Journal of Sport Medicine yang mengambil sampel 1000 orang dewasa. Dari total sampel, mereka yang berjalan kaki setidaknya 30 menit sehari dengan kecepatan sedang punya 43% kemungkinan kecil terserang flu. Mereka juga lebih tahan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Berjalan Kaki, Energi, dan Kreativitas

Itu tadi efek berjalan kaki secara fisik ya. Apa nih, efek baik berjalan kaki buat kesehatan jiwa? Tadi kita udah sempet dikit nyinggung masalah kaitan gaya hidup aktif dan produksi endorfin yang akhirnya bikin mood jadi lebih baik. Tapi ga cuma itu, berjalan kaki juga bisa memacu meningkatkan energi dan menjernihkan pikiran. Ketika kita berjalan kaki, ga cuma endorfin yang meningkat. Produksi hormon lain yang berperan dalam meningkatkan energi juga naik seperti kortisol, epinefrin, dan norepinefrin. Dengan peningkatan level energi, badan lebih segar dan pikiran jadi jernih juga. Pikiran yang jernih itu, sodara-sodara, adalah dasar pola berpikir kreatif. Ide-ide baru akan lebih mudah muncul ketika kita berjalan kaki ketimbang cuma duduk diem mikir.

My Final Points

Jadi apa nih, takeaway-nya dari pembahasan kita kali ini?

Berjalan kaki adalah sarana atau metode me time yang valid yang mesti, kudu, wajib banget Teman DRYD praktikkan. Di tengah hiruk-pikuk hidup modern kita yang serba sibuk, serba instan, serba ga ada waktu, dan serba hectic, berjalan kaki bisa jadi alternatif cara relaksasi yang efisien dari segala sudut pandang.

Dengan menggerakkan anggota tubuh, kita bisa mengungkapkan rasa cinta kita kepada diri sendiri. Jasmani kita prima, rohani kita sehat, catet  ya, itu. Merawat diri itu ga perlu ribet. Kalo emang rutinitas sehari-hari udah memporsir energi dan waktu, menyempatkan diri untuk berjalan kaki di antara kesibukan itu adalah hal cerdas dan bijak.

Berjalan kaki juga murah—bahkan ga perlu ngeluarin uang sepeserpun. Yaaa, paling mungkin sebaiknya sisihin duit dikit buat beli sepatu olahraga yang efektif untuk dipake tiap hari. Lumayan buat ngejaga kesehatan kaki. Engga juga gapapa, apalagi kalo intensitasnya masih belum bisa cukup tinggi dan cepat. Sama mungkin bekal sunscreen deh, terutama kalo rutenya keekspos sinar matahari. Tapi sebaiknya hindari area terbuka sih, ato pilih waktu ketika matahari ga terik-terik banget. Sama mungkin bawa uang receh aja, buat jaga-jaga kalo pas jalan-jalan tetiba aus kan?

Dan karena praktis tanpa alat yang neko-neko, berjalan kaki jadi pilihan olahraga yang jauh lebih ringkes juga. Mana ga perlu pusing kudu berangkat ke fitnessan juga kan. Pokoknya ini kesempatan emas buat bisa menikmati relaksasi sambil menyehatkan badan tanpa perlu keluar duit dan ngorbanin kerjaan.

Udah ga ada alasan buat nunda. Udah ga ada perlunya “nendang” diri sendiri buat memotivasi berangkat ngegym. Udah waktunya ngelepasin diri dari stres dan depresi. Kita semua harus sehat fisik dan mental dan itu semua sederhana: Bangkit dari duduk dan ayunkan kaki sekarang juga!

Skincare Itu Penting—Bahkan Waktu Sebelum C-Section

Apa yang terbayang saat mendengar “operasi sesar”? Pasti ngeri, kan? Bayangin aja, perut dibuka oleh orang lain dan organ dalam di-obok-obok. Emang sih, pake anestesi; tapi, itu ga bikin segalanya jadi lebih baik kok. Perasaan takut menggentayangi. Perasaan ngeri terus-terusan menghantui. Ujung-ujungnya si ibu jadi stres, depresi, dan banyak hal negatif lain yang akan mengikuti. Ini baru urusan kemelut internal psikis si calon ibu loh, ya. Kita bahkan belum ngebahas apa aja yang berpotensi bikin si ibu semakin stres dari luar dirinya sendiri. Apa aja faktor dari luar yang bikin si ibu tambah stres?

Banyaaak.

Tapi yang paling utama sih ya, omongan dari orang lain tentang prosedur operasi itu sendiri.

Suka ga suka, masyarakat kita masih memandang sebelah mata operasi cesar. Anggapannya adalah operasi ini adalah sesuatu yang ga alami dan karenanya orang yang memilih jalan C-section untuk melahirkan adalah sama ga alaminya. Banyak banget yang masih mikir kalo menjadi ibu sutuhnya adalah dengan cara melahirkan alami padahal prinsipnya ga begitu. Apa pun cara melahirkannya, si jabang bayi toh dibentuk di dalam rahim sendiri, kan? Jadi ga seharusnya berpikir kalo ukuran ibu sempurna itu cuma diliat dari gimana dia ngelairin anaknya sendiri. Mau sesar, mau alami, rasa cinta kita pada anak sama aja, kan ya?

Tapi itu tetep ga membuat seorang calon ibu yang akan menjalani sesar lebih legaan dikit. Pertanyaan-pertanyaan dari orang lain, yang mungkin sebetulnya ga ditujukan buat nyakitin ati, tetep nancep. “Kenapa gitu, milih disesar?” “Berarti pas persalinan, bobo doang dong?” “Enak ya, disesar, ga ngerasain sakit kontraksi.” Semua pertanyaan simpel, tapi bisa diartikan sebagai sindiran halus oleh si calon ibu bersangkutan.

Dan yang namanya ngerasa disindir, pasti ga enak kan? Overthinking lah jadinya. Stres lah jadinya. Mana hormon-hormon lagi bergejolak pula. Tambah bikin depresi lah jadinya. Bisa-bisa si calon ibu malah ogah ngelairin cuma gegara ngerasa dipojokin. Padahal nih, ya, perjalanan seorang yang abis disesar itu ga kalah memukau loh.

Pertama, recovery mereka lebih lama. Luka pembedahan pasca-sesar itu butuh waktu kurang lebih enam minggu untuk sembuh. Nah, dalam periode recovery ini, mereka akan selalu “serba salah”. Bergerak, sakit. Tidur ga nyaman. Batuk ato bersin, risikonya jahitan luka bedah kebuka. Jangankan beraktivitas seperti biasa sebelum operasi, menyusui anak aja harus dibantu orang lain karena ga mungkin bangun dari tempat tidur. Belum lagi soal kateter yang ga boleh dilepas soalnya tanpa kateter proses pengeluaran urin bakalan bikin semuanya messy.

Kedua, hasil akhir proses operasi cuma bisa diketahui setelah prosedur selesai dan para ibu yang melahirkan sesar harus menjalani semuanya di dalam ruang operasi sendirian. Tanpa sang suami. Tanpa orang tua. Tanpa anggota keluarga. Bahkan tanpa teman dekat. Ga ada. Cuma dia, para dokter, dan suster-suster. FYI nih ya; dalam sebuah prosedur C-section, seenggaknya ada tiga dokter yang terlibat: dokter anestesi, dokter bedah, dan dokter anak. Kebayang ga, gimana sepinya si ibu dalam ruangan yang asing dan dikelilingi orang-orang yang sama asingnya. Badannya keekspos, organ dalamnya diiris. Ga ada suami yang bisa minjemin tangannya buat diremas menahan sakit. Ga ada orang tua yang suaranya bisa ngasi ketenangan. Ga ada anggota keluarga yang seenggaknya bisa bikin ruang bedah sedikit lebih familiar. Ga ada para sahabat yang bisa ngasi semangat.

Ketiga, seorang ibu yang menjalani sesar berarti dengan sadar sudah paham konsekuensi selepas operasi nanti. Termasuk di dalamnya adalah keharusan buat ninggalin rasa malu di luar ruang operasi, rasa sakit yang menerjang berhari-hari—bahkan beberapa bulan setelah luka operasi sembuh pun rasa sakit masih bisa datang sendiri, dan menanggung kemungkinan kemunculan rasa trauma. Semuanya cuma karena satu hal: Si ibu ingin anaknya baik-baik saja.

Tuh, udah tau kan, gimana beratnya perjuangan seorang ibu yang memilih prosedur sesar? Sesar ini ga sembarangan loh ya. Harus ada serangkaian tes dan pemeriksaan medis oleh pakarnya sebelum diputuskan kalo si calon ibu sebaiknya menjalani C-section. Kalo kondisi si ibu atau si bayi atau bahkan keduanya ga memungkinkan (atau mengancam nyawa) buat proses melahirkan alami, ya mau ga mau harus sesar kan? Emang sih, ada juga opsi sesar elektif. Tapi itu ga mengurangi esensi menjadi seorang ibu kok. Misal nih, ada semacam fobia yang berkaitan dengan proses kelahiran normal, daripada nanti berujung semuanya berubah menjadi trauma mendalam, ya sesar bisa jadi opsi untuk dipilih. Yang penting konsultasi sama dokter dan dengerin dan ikutin anjuran aja.

Nah, topik bahasan kita kali ini berkaitan erat sama manajemen stres pra-kelahiran lewat prosedur sesar.

Udah tau dong kalo stres bikin komposisi hormon dalam badan jadi kacau-balau? Kondisi hormon yang ga stabil bisa bikin kondisi badan secara umum juga labil. Tekanan darah naik. Denyut jantung ga normal. Respons sistem imun bisa hiperaktif. Macem-macem, tapi semuanya bisa mengganggu kelancaran operasi nantinya. Gimana caranya dong biar bisa seengganya mengontrol risiko seperti ini? Me-time dong.

Apa hubungannya, Dok, me-time sama manajemen stres pra-sesar?

Loh, ya ada dong. Begitu kita bisa menyisihkan waktu buat mengelola stres, tubuh bisa merespon dengan positif dan keadaan internal badan bisa lebih stabil. Apa caranya? Yang paling gampang deh ya, skincare-an aja.

Skincare ataupun skin treatment mungkin adalah hal terakhir yang seorang calon ibu pikirkan di hari-hari menjelang melahirkan. Tapi ini juga sekaligus cara termudah. Kenapa? Misalnya seorang ibu sedang deg-degan mau operasi. Terus dia pergi ke spa buat relaksasi. Pijatan yang diberikan pada bagian-bagian tubuh tertentu bisa memicu pelepasan endorfin yang kemudian bisa berefek menenangkan. Pikiran jadi lebih “diam”. Rasa takut bisa lebih mudah dikendalikan.

Apa harus segitunya sampe pergi ke spa? Ga juga sih, kan cuma contoh. Alternatif lain yang bahkan ga ngeluarin uang banyak apa? Naaah, coba deh pake sheetmask.

Penggunaan masker wajah model begini bisa sangat akomodatif buat ibu-ibu hamil. Tinggal cuci muka, keringin, buka kemasan, tempel ke muka, tunggu beberapa menit, lepas, kelar. Biar sederhana, biar murah, biar effortless, kalo soal hasil akhir, masker seperti ini ga bisa diremehin. Kulit jadi kinclong, berasa sehat dan seger, hati seneng, stres berkurang deh. Calon ibu tetep harus ngerasa cantik loh ya meskipun tanggal jadwal prosedur operasi udah makin deket. Dengan mengurus kesehatan kulit dengan benar, percaya diri bisa makin meningkat. Dengan bekal kepercayaan diri yang besar, ketakutan akan risiko-risiko operasi yang ada bisa lebih gampang di-manage.

Ato kalo emang mau yang lebih all out, bisa aja sih, dateng ke klinik perawatan kulit. Tapiii, pastiin dulu di klinik itu ada jenis perawatan yang bersahabat sama kondisi kehamilan. Misal nih, coba deh tanya, ada ngga masker untuk ibu hamil yang ditawarin si klinik. Iya emang tujuannya buat ngerawat wajah dan kulit tapi ga bisa sembarangan loh ya. Cari tau informasi tentang masker yang aman untuk ibu hamil itu apa aja. Soalnya kalo sembarangan pilih produk bisa-bisa malah berbahaya buat kandungan nantinya.

Kalo punya waktu dan energi, coba deh racik sendiri masker wajah alami buat dipake sehari-hari. Banyak kok referensinya. Lagi-lagi, kalo milih cara ini, semuanya kudu banget higienis yaaa, biar ga ngefek ke dedek bayi dalem kandungan.

“Oh, jadi skincare-an ini cuma eksklusif buat ibu-ibu yang mau sesar, Dok? Yang rencananya lairan normal ga perlu rawat-rawat ini-itu, gitu?”

Hahahah, bentar-bentar, jangan ngambek dulu dooong.

Yang namanya proses melahirkan itu, apa pun bentuknya, pasti mendebarkan. Pasti bikin stres. Kenapa pembahasan kali ini fokusnya ke proses sesar itu karena risiko dan konsekuensi yang udah disebutin tadi. Iya, melahirkan normal itu juga menyakitkan. Tapi paling engga di dalam ruang persalinan nanti ada orang lain selain para dokter dan bidan yang nemenin. Tapi ya tetep sama kok. Ibu-ibu yang mau melahirkan normal juga boleh—dan sebaiknya, malah—menjalani perawatan kulit. Kan tujuannya mau buat mengelola rasa stres dan takut, kan ya. Jadi sah-sah aja kok. Asal itu tadi, pastikan produknya aman dan ga berisiko baik buat si ibu maupun buat si anak.

Dah ya, gitu aja. Sampe ketemu di topik lain yaaa. Saya mau maskeran dulu. Stres juga ni, nyari referensi tentang sesar. Ngelairin kaga, stresnya tetep dapet.